Merespons Ancaman ‘Cognitive Offloading’, Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Bedah Ulang Sistem Belajar di The Cornerstone

Merespons Ancaman 'Cognitive Offloading', Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Bedah Ulang Sistem Belajar di The Cornerstone
Merespons Ancaman 'Cognitive Offloading', Anies Baswedan dan Najelaa Shihab Bedah Ulang Sistem Belajar di The Cornerstone
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Tingkat penggunaan kecerdasan buatan (AI) di kalangan pelajar Indonesia saat ini dilaporkan telah menyentuh angka 95 persen.

Di balik efisiensi instan yang ditawarkan, tersimpan ancaman tak kasatmata yang berisiko mengikis ketajaman nalar generasi penerus: cognitive offloading. Ini adalah sebuah kondisi di mana otak jarang dilatih untuk berpikir analitis dan memecahkan masalah karena tugas-tugas kognitif yang sulit telah diambil alih oleh mesin.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ancaman serius terhadap kualitas sumber daya manusia inilah yang dibedah secara
mendalam dalam panel “Reimagine Education in the Era of AI” di konferensi nasional The Cornerstone yang baru saja usai diselenggarakan.

Menyoroti tantangan di garis depan pendidikan, tokoh pendidikan sekaligus Founder Cikal, Najelaa Shihab, membedah bagaimana institusi dan tenaga pendidik harus segera beradaptasi.

Menyikapi penetrasi AI, ia menekankan bahwa dunia pendidikan kini tidak bisa lagi hanya berorientasi pada hasil akhir.

Tantangan bagi para guru hari ini adalah merancang evaluasi yang mengharuskan siswa secara transparan menyebutkan di tahap mana mereka menggunakan AI, serta melatih siswa mengkritisi bias dari informasi yang dihasilkan oleh mesin tersebut.

“Peran guru kini betul-betul berubah. Jika dulu guru sekadar pemberi informasi, lalu bergeser menjadi fasilitator, kini peran guru telah berevolusi menjadi arsitek dan desainer dari proses pembelajaran itu sendiri,” papar Najelaa Shihab.

Memperdalam diskursus mengenai proses berpikir tersebut, mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyoroti bahwa efisiensi teknologi tidak akan sebanding jika risikonya adalah hilangnya daya analisis calon pemimpin masa depan.

Menurutnya, AI harus diposisikan sebagai alat yang dikendalikan oleh manusia, bukan sebaliknya.

Selain itu, ia juuga menekankan pentingnya kebijakan yang merangkul anak muda di luar sistem sekolah formal serta perlunya institusi rujukan tingkat negara untuk mengantisipasi perubahan ini.

“AI akan hadir sebagai kendaraan untuk masa depan. Pertanyaannya, apakah kita mau menjadi yang menyetir atau yang disetir? Bagaimana mungkin kita bicara tentang policy AI di sekolah-sekolah ketika negara sendiri belum punya satu arah yang menjadi pegangan bagi semua? Negara harus serius memiliki strategy future office untuk mengantisipasi perubahan ini,” tegas Anies Baswedan.

Lebih lanjut, Anies mengingatkan bahwa inovasi akan selalu bergerak lebih cepat daripada regulasi, sehingga dibutuhkan peta jalan (roadmap) yang adaptif.

“Inovasi selalu mendahului regulasi. Karenanya, jangan sampai pemerintah itu tertatih-tatih mengikuti cepatnya perubahan. Perlu ada garis besar arah agar regulasi dan kebijakan kita bisa adaptif di era AI ini,” tambahnya.

Kesadaran akan pentingnya menjaga kemandirian berpikir anak muda ini amat selaras dengan visi EduALL. Selama ini, EduALL dikenal sebagai konsultan pendidikan yang mendampingi persiapan siswa untuk melanjutkan kuliah ke luar negeri.

Namun, visi EduALL sejatinya jauh melampaui urusan penerimaan kampus. EduALL mengambil peran esensial sebagai pembentuk karakter untuk mencetak generasi pembawa perubahan (Game Changer).

Untuk menjembatani lahirnya para Game Changer inilah, EduALL menginisiasi The Cornerstone. EduALL menyadari bahwa persiapan akademis akan sia-sia jika kemandirian intelektual siswanya terkikis oleh teknologi.

Melalui forum ini, EduALL memberikan panggung riil bagi pelajar untuk berdialog setara dengan para pembuat kebijakan, memastikan nalar kritis mereka tetap terasah tajam. Sebab pada kenyataannya, berbagai kebijakan penentu arah masa depan bangsa masih sangat jarang dirumuskan dengan melibatkan suara anak muda secara langsung.

Lewat inisiatif ini, EduALL berharap The Cornerstone dapat menjadi fondasi awal yang memastikan bahwa diskursus mengenai gagasan dan regulasi negara kelak selalu merangkul suara para calon pemimpin bangsa.

“Hari ini kita benar-benar melihat langsung aksi para Game Changer itu. Energi mereka luar biasa. Di forum ini mereka membuktikan kalau anak muda itu bukan cuma audiens pasif, tapi berani berdialog dan melempar pandangan kritis langsung di depan para ahli,” ujar CEO EduALL, Devi Kasih.

Menjawab langsung urgensi pemerataan akses pendidikan yang digaungkan dalam forum tersebut, rangkaian acara The Cornerstone ini ditutup dengan sebuah aksi nyata.

Mengukuhkan komitmen sosialnya, EduALL menyalurkan 100 persen dana dari penjualan
tiket dan donasi melalui kolaborasi bersama Indonesia Mengajar. Langkah filantropi ini
memastikan bahwa semangat pendidikan yang inklusif tidak hanya menjadi wacana di
Jakarta, melainkan turut dirasakan dampaknya oleh anak-anak di pelosok Nusantara.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.