Industri Baterai Mulai Beralih ke Energi Bersih
Transformasi menuju industri yang lebih rendah emisi juga berlanjut pada sektor baterai. Direktur Utama PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC), Aditya Farhan Arif, mengatakan ESG menjadi aspek yang semakin penting bagi produk untuk dapat diterima pasar.
“Tanpa disuruh pasti kita akan concern sama ESG. Karena kalau tidak barangnya berpotensi tidak laku,” ujar Aditya.
Ia menjelaskan bahwa pengurangan emisi dari kendaraan listrik harus dihitung secara menyeluruh. Menurutnya, penggunaan kendaraan listrik memang dapat mengurangi emisi, tetapi proses produksi baterai dan bahan bakunya juga harus diperhitungkan.
“Tapi dalam melihat total emisi ini, kita melihatnya dari hulu sampai ke hilir. Tidak hanya di satu segmen baterainya saja atau MHP (mixed hydroxide precipitate) saja, kita harus melihatnya dari hulu ke hilir. Karena framework yang digunakan adalah daur hidup atau life cycle assessment,” papar Aditya.
Untuk mengurangi emisi, IBC menerapkan bauran energi dalam pengembangan fasilitas industrinya. Salah satunya melalui pemasangan solar PV berkapasitas 18 MW di pabrik Karawang.
“Itulah mengapa IBC melakukan bauran energi pada portfolio-nya. Jadi di pabrik yang di Karawang, kita install 18 MW solar PV, kemudian nanti di pabrik material baterainya juga kami akan lakukan bauran dengan energi bersih. Itu supaya secara total nanti bisa meng-offset emisi secara keseluruhan,” imbuhnya.
Selain penggunaan energi bersih, IBC juga mengembangkan proses daur ulang (recycling). Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi jejak emisi sekaligus meningkatkan daya saing produk di pasar yang semakin memperhatikan aspek ESG.
“Ini menjadi upaya kami untuk bisa kompetitif di pasar-pasar yang sensitif ESG,” kata Aditya.
Menurutnya, penerapan ESG juga mencakup aspek sosial dan tata kelola. Kedua aspek tersebut harus berjalan beriringan dengan upaya perusahaan mengurangi dampak lingkungan.
“Jadi masalah social, masalah governance, selain masalah environment, itu seharusnya tidak menjadi masalah karena kami bagian dari BUMN ini. Jadi aspek social dan governance itu menjadi bagian yang terintegrasi di dalamnya,” pungkasnya.











