LSPR Gelar AKSI INKLUSI 2026 di Bekasi, Bekali Penyandang Disabilitas dengan Keterampilan Kerja dan Semangat Kemandirian

Mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business dan Nara Sumber melalui program Community Development gelar AKSI INKLUSI di Bougenville Hall, NASSA Valley, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, Jumat (19/6/2026).
banner 468x60

BEKASI, RadarJakarta.id – Upaya mewujudkan Indonesia yang lebih inklusif terus mendapat perhatian dari berbagai kalangan. Salah satunya ditunjukkan oleh LSPR Institute of Communication and Business melalui penyelenggaraan program AKSI INKLUSI 2026.

AKSI INKLUSI 2026 ini sebuah gerakan yang bertujuan membuka peluang lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk berkembang, berkarya, dan meraih masa depan yang lebih mandiri.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Kegiatan yang berlangsung di Bougenville Hall, NASSA Valley, Jatimurni, Pondok Melati, Bekasi, Jumat (19/6/2026), ini menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik maupun intelektual bukanlah penghalang bagi seseorang untuk mengembangkan potensi dan berkontribusi bagi masyarakat.

Acara diawali dengan konferensi pers yang dihadiri oleh para pemangku kepentingan, akademisi, mitra industri, serta 30 siswa dan alumni SLB Al-Gaffar Guchany yang menjadi peserta utama.

Momentum tersebut sekaligus menjadi ajang kampanye penting mengenai kesetaraan, pemberdayaan, dan pentingnya membangun lingkungan yang ramah terhadap penyandang disabilitas.

Ketua Pelaksana AKSI INKLUSI, Ribka Desclara Bintoro, mewakili mahasiswa LSPR Institute kelas PRDC 27-2TP, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial mahasiswa, melainkan bentuk kepedulian dan aksi nyata untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang lebih inklusif.

“Inklusivitas bukan hanya slogan atau kata-kata indah. Inklusivitas harus diwujudkan melalui tindakan bersama. Kami ingin menunjukkan bahwa disabilitas tidak menghalangi seseorang untuk memiliki masa depan yang cerah dan kehidupan yang layak. Semua bergantung pada potensi yang dimiliki masing-masing individu,” ujarnya.

Menurut Ribka, program AKSI INKLUSI lahir dari keprihatinan terhadap masih terbatasnya akses pelatihan kerja yang sesuai bagi penyandang disabilitas. Banyak orang tua masih menyimpan kekhawatiran mengenai masa depan anak-anak mereka setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB).

“Keterbatasan bukanlah akhir dari sebuah potensi. Anak-anak berkebutuhan khusus memiliki kemampuan yang luar biasa dan dapat berkembang secara optimal apabila diberikan kesempatan, ruang belajar, serta pendampingan yang tepat,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh pengalaman langsung melalui berbagai simulasi profesi yang dirancang menyerupai kondisi kerja di dunia industri.

Kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran praktis yang bertujuan meningkatkan keterampilan, membangun rasa percaya diri, serta mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja secara mandiri.

Dosen Pembimbing Community Development LSPR, Rizka Septiana, M.Si., menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi kerja yang kompetitif apabila mendapatkan akses pelatihan yang tepat.

“Kehadiran AKSI INKLUSI bertujuan menunjukkan kepada dunia industri bahwa teman-teman disabilitas memiliki kemampuan untuk bersaing dan memberikan kontribusi profesional apabila memperoleh pendampingan yang sesuai,” katanya.

Menurut Rizka, program ini juga menjadi implementasi nyata dari Sustainable Development Goals (SDGs) poin keempat tentang Pendidikan Berkualitas, dengan menghadirkan pembelajaran adaptif yang mampu mengembangkan keterampilan teknis (hard skill) maupun keterampilan sosial (soft skill) para peserta.

Sementara itu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi LSPR, Dr. Joe Harrianto Setiawan, menilai bahwa dunia komunikasi dan bisnis memiliki peran strategis dalam menyuarakan kesetaraan sosial.

“LSPR berkomitmen mencetak generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan mampu menciptakan peluang yang setara bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan Ketua Yayasan Al-Gaffar Guchany, Fermita Guchany, M.Pd. Menurutnya, kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia industri seperti ini sangat penting untuk membuka perspektif masyarakat bahwa anak-anak berkebutuhan khusus memiliki bakat, kreativitas, dan kemampuan luar biasa yang perlu didukung dan dikembangkan.

Memasuki sesi utama, suasana NASSA Valley semakin semarak dengan beragam agenda edukatif dan interaktif. Mulai dari sesi edukasi, praktik langsung, hingga simulasi profesi yang dirancang untuk memperkenalkan peserta pada lingkungan kerja yang sesungguhnya.

Puncak kegiatan ditandai dengan Simulasi Profesi yang diikuti oleh 30 peserta berusia 8 hingga 25 tahun dengan berbagai latar belakang kebutuhan khusus, seperti tunarungu, sindrom Down, autisme, dan kondisi lainnya.

Para peserta dibagi ke dalam dua zona kerja hasil kolaborasi bersama mitra industri, yaitu:

Zona Artotel, yang menghadirkan simulasi layanan Food and Beverage (F&B) dan industri perhotelan. Zona IKEA, yang berfokus pada simulasi dunia ritel, pelayanan pelanggan, serta pengelolaan barang.

Melalui simulasi tersebut, peserta diajak mengenal suasana kerja secara langsung, mengasah keterampilan teknis, serta menumbuhkan rasa percaya diri agar kelak mampu hidup mandiri dan membangun karier sesuai potensi masing-masing.

Secara paralel, di ruangan terpisah juga digelar talkshow bertajuk “Kenali dan Dukung Potensi Disabilitas” yang diperuntukkan bagi para orang tua dan wali murid.

Menghadirkan empat narasumber ahli, sesi ini menjadi ruang diskusi yang memperkuat pemahaman bahwa dukungan keluarga merupakan fondasi utama dalam tumbuh dan berkembangnya anak-anak berkebutuhan khusus.

Tak hanya itu, kemeriahan acara juga diwarnai dengan berbagai penampilan seni dari komunitas disabilitas POTADS, permainan interaktif, serta pameran produk vokasional hasil karya siswa SLB Al-Gaffar Guchany.

Para pengunjung dan insan media dapat menyaksikan secara langsung kreativitas dan keterampilan luar biasa yang dimiliki para peserta.

Perwakilan Divisi Media AKSI INKLUSI LSPR, Naudy Putri Anggini, menyampaikan apresiasi kepada seluruh insan media yang telah mendukung dan meliput kegiatan tersebut.

“Kehadiran rekan-rekan media sangat berarti agar pesan inklusivitas dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas. Kami berharap pemberitaan ini dapat menginspirasi lebih banyak institusi, perusahaan, dan masyarakat untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang ramah, inklusif, dan memberikan ruang bagi penyandang disabilitas untuk berkarya,” ujarnya.

Melalui penyelenggaraan AKSI INKLUSI 2026, LSPR Institute of Communication and Business berharap dapat membangun kolaborasi berkelanjutan antara dunia pendidikan, industri, dan masyarakat dalam mewujudkan Indonesia yang setara, inklusif, serta berkeadilan sosial bagi seluruh warga negara.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.