Listyo Sigit dan Nyala Api Hoegeng yang Menerangi Tembok Adhyaksa

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. (Foto: Ist)
banner 468x60

Bukan Menyerang Adhyaksa

Nyala Hoegeng tidak datang untuk membakar Kejaksaan Agung. Ia datang untuk menerangi temboknya.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Korps Adhyaksa adalah salah satu tiang utama negara hukum. Ribuan jaksa mengabdi dengan jujur, mempertaruhkan tenaga dan keselamatan untuk membawa pelaku kejahatan ke pengadilan. Mereka tidak boleh dipersalahkan akibat dugaan perbuatan seorang mantan pejabat.

Justru karena Kejaksaan Agung begitu penting, tidak boleh ada satu orang pun yang menjadikannya tempat berlindung.

Institusi besar tidak jatuh ketika pejabatnya diperiksa. Institusi jatuh ketika kehormatannya digunakan untuk menghalangi pemeriksaan.

Polri tidak sedang merendahkan Adhyaksa dengan membuka kasus Febrie. Polri sedang memberikan kesempatan kepada Adhyaksa untuk membuktikan bahwa kehormatan institusi lebih besar daripada nasib seorang individu.

Jika Febrie tidak bersalah, hukum harus membersihkan namanya. Jika bukti menunjukkan keterlibatan, hukum harus menegakkan pertanggungjawaban. Dalam kedua keadaan, Kejaksaan Agung hanya akan menjadi lebih kuat apabila memilih berdiri bersama kebenaran.

Cahaya dari Trunojoyo seharusnya tidak dipandang sebagai serangan. Cahaya itu dapat menjadi obor yang diteruskan Adhyaksa sampai ke pengadilan.

Kursi yang Tidak Lebih Tinggi dari Kehormatan

Setiap Kapolri mengetahui bahwa jabatannya mempunyai batas waktu. Tongkat komando dapat berpindah. Bintang dapat dilepas. Penghormatan resmi dapat berhenti ketika masa jabatan berakhir.

Namun, keberanian tidak mengenal masa pensiun.

Hoegeng meninggalkan jabatan, tetapi namanya hidup lebih lama daripada banyak penguasa pada zamannya. Ia membuktikan bahwa seseorang dapat kehilangan kursi dan tetap memenangkan sejarah.

Listyo Sigit kini berdiri di hadapan ukuran yang sama.

Kasus Febrie dapat menentukan bagaimana generasi berikutnya mengenang kepemimpinannya. Bukan dari lamanya ia menjadi Kapolri, tetapi dari seberapa jauh ia berani membawa hukum ketika jalan di depannya dijaga kekuasaan.

Jika ia memilih kenyamanan, perkara ini akan menjadi satu lagi cerita tentang hukum yang berhenti di depan pagar elite.

Jika ia memilih keberanian, kasus ini akan menjadi penanda bahwa pernah ada masa ketika Polri menembus batas nyali dan menerangi bagian republik yang selama ini dibiarkan gelap.

Listyo Sigit telah memilih melangkah.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.