BANDA ACEH, Radarjakarta.id – Budidaya kepiting soka atau kepiting bercangkang lunak di pesisir Aceh mulai menunjukkan prospek besar sebagai komoditas perikanan bernilai ekonomi tinggi. Produksinya yang mencapai sekitar 2 ton per bulan telah mampu memenuhi pasar dalam negeri sekaligus menembus pasar ekspor Asia.
Sentra budidaya salah satunya berada di kawasan pesisir Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh. Kepiting soka hasil budidaya masyarakat setempat dipasarkan ke sejumlah daerah di Indonesia sebelum dikirim ke pasar internasional, di antaranya Singapura, Malaysia, Jepang, dan China.
Pembudidaya kepiting soka Banda Aceh, Muhammad Rafli, mengatakan hasil produksi dikirim terlebih dahulu ke Medan sebelum diteruskan untuk kebutuhan pasar ekspor. Permintaan dari pasar luar negeri berada di kisaran 70–100 kilogram per pekan.
“Kalau sudah dilepas bibitnya, sekitar 15 hari sudah bisa panen. Sekali panen bisa sampai 480 kilogram,” ujar Rafli. Ia menyebut usaha budidaya tersebut telah dijalankannya bersama keluarga sejak 2012.
Secara lebih luas, produksi kepiting soka yang tersebar di sejumlah wilayah Aceh, termasuk Aceh Utara, Bireuen, Pidie, Aceh Timur dan Banda Aceh, mencapai sekitar 2 ton per bulan. Komoditas tersebut memiliki harga sekitar Rp190 ribu hingga Rp200 ribu per kilogram, sehingga membuka peluang peningkatan pendapatan bagi masyarakat pesisir.
Pembudidaya lainnya, Liza, menilai usaha kepiting soka cukup menjanjikan karena siklus panennya relatif cepat. Dengan harga sekitar Rp200 ribu per kilogram dan masa panen sekitar 15 hari, budidaya ini dinilai mampu membantu menopang ekonomi keluarga masyarakat pesisir.
Pemerintah Kota Banda Aceh melalui Dinas Pangan Pertanian Kelautan dan Perikanan juga memberikan pendampingan kepada para pembudidaya. Dukungan dilakukan melalui penyuluh perikanan serta membuka kesempatan pengajuan bantuan bibit bagi kelompok pembudidaya sesuai ketentuan yang berlaku.
Namun, peluang pasar ekspor tersebut masih menghadapi tantangan, terutama ketersediaan bibit dan kesinambungan produksi. Sebelumnya, keterbatasan bibit disebut menjadi salah satu faktor yang membuat pasokan kepiting soka Aceh ke pasar ekspor belum maksimal. Karena itu, penguatan pembenihan, pendampingan teknis, serta rantai pasok menjadi penting agar komoditas pesisir Aceh ini mampu berkembang secara berkelanjutan.
Dengan produksi yang terus berkembang dan pasar Asia yang mulai terbuka lebar, kepiting soka bukan sekadar komoditas perikanan, tetapi berpotensi menjadi penggerak baru ekonomi masyarakat pesisir Aceh.|Syarifah*











