Kemenperin Dorong Tepung Lokal Jadi Komplementer Bahan Baku Industri Pangan

banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pemanfaatan tepung berbasis bahan baku lokal sebagai bahan komplementer untuk memperkuat rantai pasok industri makanan dan minuman nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Ketua Tim Makanan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kemenperin, Indra Akbar Dilana, mengatakan Indonesia memiliki beragam potensi sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi bahan baku industri, di antaranya singkong, talas, porang, dan sagu.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Indra, pengembangan tepung lokal tidak harus sepenuhnya menggantikan bahan baku impor. Sejumlah komoditas memang memiliki karakteristik khusus yang sulit digantikan. Namun, melalui formulasi yang tepat dan efisien, produk lokal dapat dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap dalam proses produksi industri besar.

“Memang ada beberapa komoditas yang sifatnya tidak tergantikan. Namun, kita bisa menjadi komplementer dengan formulasi yang tepat dan efisien, sehingga industri besar bisa menggunakan produk-produk lokal,” ujar Indra dalam sebuah diskusi.

Ia menjelaskan, tantangan pengembangan bahan baku lokal bukan hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga membangun keterhubungan antara pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dengan industri besar sebagai calon pengguna produk.

Indra mencontohkan potensi tepung sagu dari Meranti dan Cirebon yang memiliki harga sekitar Rp6.000 per kilogram. Potensi tersebut perlu dipromosikan dan dikomunikasikan secara lebih luas agar produsen lokal dapat terhubung dengan industri yang membutuhkan pasokan bahan baku.

Pengalaman pengembangan sentra pengolahan tepung lokal di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), juga menjadi salah satu contoh tantangan sekaligus peluang dalam membangun kemitraan industri.

Pada tahap awal, pemerintah menghadapi kendala dalam mencari industri besar yang bersedia menyerap produk olahan IKM. Namun, melalui kegiatan temu bisnis dan fasilitasi kemitraan, akses pasar secara bertahap mulai terbuka.

Meski demikian, persoalan ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan masih menjadi perhatian. Indra mencontohkan perbedaan harga singkong di Lampung yang sempat berada di kisaran Rp800 per kilogram, sedangkan di Lombok Tengah mencapai sekitar Rp1.800 per kilogram.

Perbedaan harga tersebut mendorong pelaku IKM untuk mencari alternatif sumber bahan baku yang lebih kompetitif agar biaya produksi tetap efisien.

“Fungsi kami adalah mencari penghasil bahan baku, mempertemukan pelaku IKM dengan calon industri besar, serta memastikan rantai pasoknya bisa berjalan dengan efisien,” jelasnya.

Indra menegaskan, penguatan kemitraan antara IKM dan industri besar menjadi salah satu langkah strategis untuk meningkatkan penyerapan produk berbasis bahan baku lokal.

Melalui upaya tersebut, pemerintah berharap produk olahan pangan lokal tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk antara (intermediate product) yang berdaya saing di pasar ekspor.

Dengan demikian, pemanfaatan komoditas lokal diharapkan semakin meningkat, sekaligus membuka peluang usaha bagi IKM dan memperkuat struktur rantai pasok industri pangan nasional.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.