PALEMBANG, Radarjakarta.id – Ketua Umum DPP GENCAR Indonesia, Charma Afrianto meminta Gubernur Sumatera Selatan turut mengoptimalkan dana Bantuan Presiden (Banpres) sebesar Rp30 miliar untuk penanganan dampak kesehatan masyarakat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Saran tersebut disampaikan menyusul tingginya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Sumatera Selatan selama periode karhutla dan kabut asap.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, tercatat 29.969 kasus ISPA sejak 30 Agustus hingga 19 September 2026. Dalam dua pekan terakhir, jumlah kasus bahkan mencapai lebih dari 10 ribu kasus setiap pekan.
Pada periode 6–12 September tercatat 10.126 kasus, sedangkan pada 13–19 September terdapat 10.020 kasus.
Charma mengatakan tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla perlu memperhatikan dampak yang dirasakan masyarakat, khususnya dari sisi kesehatan.
“Kalau kasus ISPA sudah mencapai sekitar 10 ribu per minggu, masyarakat yang sakit harus menjadi perhatian. Penanganan karhutla jangan hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga pada perlindungan masyarakat yang menghirup asap,” ujar Charma.
Menurutnya, Gubernur Sumatera Selatan dapat mengoptimalkan anggaran penanganan karhutla sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak.
Anggaran tersebut, kata Charma, dapat digunakan untuk mendukung pemeriksaan kesehatan warga, penyediaan obat-obatan, pelayanan medis, perlindungan kelompok rentan, serta kebutuhan kesehatan lainnya.
Charma juga meminta Gubernur Sumatera Selatan tidak perlu khawatir terhadap pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sepanjang penggunaan anggaran dilakukan sesuai aturan dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Jangan takut diperiksa BPK. Kalau digunakan sesuai aturan dan benar-benar untuk kepentingan masyarakat, justru pemeriksaan menjadi bagian dari pertanggungjawaban,” katanya.
Ia menegaskan bahwa penanganan karhutla perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain mengendalikan sumber api, pemerintah juga perlu memastikan masyarakat yang terdampak asap mendapatkan perlindungan kesehatan.
Menurut Charma, tingginya kasus ISPA menjadi salah satu indikator bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
“Yang kita hadapi bukan hanya api, tetapi masyarakat yang setiap hari menghirup asap. Mereka membutuhkan kehadiran negara,” tegas Charma.











