Ketua Gabungan Industri Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia (GAMMA), Dadang Asikin mengatakan industri pengerjaan logam dan permesinan nasional membutuhkan akses yang lebih luas terhadap teknologi pemrosesan dan keahlian teknis.
“Industri pengerjaan logam dan permesinan Indonesia membutuhkan akses terhadap teknologi pemrosesan canggih, keahlian teknis, serta kemitraan internasional seiring dengan berkembangnya kapasitas manufaktur domestik,” ujar Dadang.
Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar dalam pengembangan rantai nilai adalah aluminium. Di Mempawah, Kalimantan Barat, pengembangan fasilitas mencakup rencana smelter aluminium primer dengan kapasitas 600.000 ton per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery Tahap II berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun.
Di sisi lain, kapasitas terpasang smelter aluminium Inalum disebut dapat mencapai 1,975 juta ton pada 2026, sementara kebutuhan domestik aluminium primer berada di sekitar 520.000 ton per tahun.
Kesenjangan antara kapasitas produksi dan kebutuhan domestik tersebut memperlihatkan peluang pengembangan industri pengolahan aluminium di dalam negeri. Produk yang dapat dikembangkan mencakup lembaran, foil, ekstrusi, kawat, produk cor, hingga komponen untuk berbagai sektor manufaktur.
Untuk menangkap peluang tersebut, GIFA dan METEC Indonesia 2026 menghadirkan Aluminium Pavilion untuk pertama kalinya. Area ini akan memperlihatkan teknologi peleburan, pengecoran, pengembangan paduan, fabrikasi, pemotongan presisi, daur ulang, pengolahan scrap, serta material handling.
Sejumlah perusahaan seperti ABP Induction Systems GmbH, Foshan Diamond Technology Co., Ltd., dan Henan Tosta Machinery Co., Ltd. akan berpartisipasi dalam Aluminium Pavilion.
“Aluminium berada di titik temu sejumlah prioritas industri Indonesia, termasuk hilirisasi, daya saing manufaktur, pembangunan infrastruktur, integrasi rantai pasok otomotif, serta transisi energi,” kata Wismer.











