Menyeimbangkan Gizi, Pendidikan, dan Pembangunan Ekonomi untuk Kedaulatan Indonesia
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih memiliki sasaran pembangunan yang berbeda, tetapi dapat saling melengkapi. MBG berperan dalam mendukung pemenuhan gizi dan kesehatan masyarakat, sedangkan Kopdes diarahkan untuk memperkuat aktivitas ekonomi desa, distribusi kebutuhan pokok, dan pemberdayaan masyarakat.
Keduanya perlu dikawal melalui transparansi, ketepatan sasaran, pengawasan, dan evaluasi manfaat. Ketelitian fiskal juga penting agar diskusi publik tidak keliru mencampurkan pagu, realisasi, dan pembiayaan. Sebagai contoh, penjumlahan alokasi awal MBG Rp335 triliun dan alokasi Kopdes Rp83 triliun menghasilkan Rp418 triliun, bukan Rp700 triliun.
Namun, pembangunan manusia membutuhkan investasi yang lebih luas. Peningkatan kualitas guru, revitalisasi laboratorium, penguatan perpustakaan, beasiswa doktoral, dan pusat penelitian berstandar internasional harus memperoleh perhatian strategis. Indonesia juga perlu memperluas kolaborasi dengan profesor dan peraih Nobel dunia untuk mempercepat transfer pengetahuan, memperkuat penelitian, serta meningkatkan kapasitas perguruan tinggi.
Pengiriman ribuan calon doktor ke universitas terbaik dunia akan lebih bermakna apabila disertai laboratorium memadai, pendanaan penelitian berkelanjutan, dan kesempatan berkarya di dalam negeri. Tujuannya bukan sekadar menambah gelar akademik, melainkan membangun kekuatan intelektual yang menghasilkan teknologi dan solusi bagi persoalan nasional.
Pada saat yang sama, MBG perlu memperhatikan kelompok masyarakat yang paling membutuhkan, termasuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar. Pemenuhan gizi dan peningkatan kualitas pendidikan tidak boleh dipertentangkan karena keduanya merupakan fondasi pembangunan manusia.
Anak yang sehat membutuhkan pendidikan bermutu, sedangkan pendidikan berkualitas membutuhkan peserta didik dengan kondisi fisik dan perkembangan yang baik. Dengan pendekatan yang terintegrasi, kebijakan pemerintah dapat memberikan manfaat langsung kepada rakyat sekaligus membangun kemampuan produktif bangsa untuk jangka panjang.
Indonesia memiliki peluang besar menuju Indonesia Emas 2045 apabila bonus demografi diubah menjadi kekuatan ilmu pengetahuan, produktivitas, dan inovasi. Pemerintah perlu terus memperkuat program pembangunan, masyarakat harus berpartisipasi secara konstruktif, dan perguruan tinggi harus menjadi pusat pengembangan gagasan serta teknologi.
Ukuran kemajuan tidak berhenti pada besarnya anggaran atau banyaknya program yang dilaksanakan, melainkan pada kemampuan bangsa menghasilkan ilmuwan, menciptakan industri unggul, meningkatkan kesejahteraan, dan mengurangi ketergantungan strategis terhadap negara lain.
“Jangan sampai Indonesia menjadi bangsa yang kaya sumber daya alam, tetapi miskin penguasaan ilmu pengetahuan; besar jumlah penduduknya, tetapi tertinggal dalam kemampuan teknologi; dan memiliki anggaran pembangunan yang besar, tetapi belum sepenuhnya menghasilkan kemandirian. Masa depan Indonesia harus dibangun dengan keberanian berpikir jauh ke depan.
Kita harus memastikan setiap anak memperoleh gizi yang baik, setiap sekolah memiliki kualitas pembelajaran yang layak, setiap peneliti mendapatkan ruang untuk berinovasi, dan setiap kebijakan pemerintah memberikan manfaat nyata bagi rakyat. Pemerintah dan masyarakat harus bersatu membangun kekuatan nasional, sebab kedaulatan tidak hanya dijaga melalui kekuatan politik dan pertahanan, tetapi juga melalui kecerdasan, penguasaan teknologi, serta kemampuan bangsa menciptakan kemakmurannya sendiri. Itulah jalan menuju Indonesia yang maju, mandiri, berdaulat, dan disegani dunia,” pungkas Haidar Alwi.













