Gejolak Rupiah dan IHSG: Upaya Asing Tekan Indonesia demi Tanamkan Pengaruh Ekonomi

R. Haidar Alwi. (Ist)
banner 468x60

Oleh: R. Haidar Alwi
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa secara resmi menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia senilai US25 miliar hingga US30 miliar demi menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah gejolak pasar keuangan global.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Keputusan strategis ini diambil didasarkan pada kondisi fiskal domestik yang dinilai sangat kokoh, dengan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai sekitar Rp420 triliun yang bertindak sebagai bantalan likuiditas mandiri yang memadai.

Langkah berani ini sekaligus menegaskan sikap politik ekonomi Indonesia untuk tidak lagi bergantung pada skema pembiayaan eksternal dan secara sadar mengalirkan pesan ke panggung dunia bahwa Indonesia memilih berdiri di atas kaki sendiri.

Penolakan tegas terhadap pendanaan asing ini langsung memicu reaksi balik di pasar keuangan global, di mana instrumen pasar saat ini sedang digunakan oleh kekuatan asing sebagai sarana pengujian sekaligus penanaman pengaruh terhadap ketahanan ekonomi nasional.

Pelemahan nilai tukar rupiah dan fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terjadi ditengarai sebagai dampak dari pergeseran sentimen dan persepsi risiko yang dikelola oleh lembaga-lembaga pemeringkat global seperti Moody’s Ratings, MSCI, S&P Global, dan Fitch.

Gejolak pergerakan angka di layar perdagangan ini dipandang bukan sebagai vonis kelemahan fundamental ekonomi riil, melainkan sebuah respon terstruktur dari kekuatan luar yang mencoba menggoyang stabilitas nasional demi membuka kembali jalur ketergantungan ekonomi lama.

Secara geopolitik, tekanan pasar semacam ini merupakan bagian dari skenario klasik penanaman pengaruh asing yang kerap dipaksakan terhadap negara-negara berkembang melalui tiga tahapan taktis yang sistematis.

Tahap awal digulirkan dengan memicu kepanikan modal keluar (capital outflow) dan pelemahan mata uang untuk menaikkan biaya utang domestik.

Tahap berikutnya dirancang untuk menguras ruang fiskal serta cadangan devisa negara target dalam jangka waktu tertentu guna menciptakan kelangkaan likuiditas.

Skenario ini bermuara pada tahap akhir, di mana negara yang terdesak akan dipaksa menerima paket pinjaman darurat internasional yang selalu dibarengi dengan rantai persyaratan ketat, rekomendasi kebijakan, serta target fiskal yang mengikat, sehingga mereduksi ruang manuver politik dan kedaulatan pemerintahan dalam menentukan arah pembangunan mandirinya.

Indonesia menolak tunduk pada skema ketergantungan tersebut karena memori kolektif bangsa masih merekam dengan jelas bagaimana intervensi IMF pada krisis moneter tahun 1997-1998 telah membelenggu kebebasan pengambilan keputusan ekonomi nasional.

Namun, kondisi fundamental Indonesia hari ini jauh berbeda dan lebih kuat dibandingkan dengan kondisi hampir tiga dekade silam, yang ditandai dengan skala ekonomi yang jauh lebih besar, cadangan devisa yang kokoh, serta sistem perbankan yang sehat dan kemampuan pembiayaan domestik yang mandiri.

Melalui modalitas ekonomi yang kuat ini, gejolak pasar saat ini dipandang sebagai ujian krusial untuk membuktikan kepada dunia internasional bahwa kemandirian ekonomi Indonesia bukan sekadar retorika, melainkan sebuah kenyataan yang solid yang didukung penuh oleh sinergi kepercayaan masyarakat, dunia usaha, investor domestik, serta seluruh komponen bangsa.

*Terimakasih*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.