MADINAH, Radarjakarta.id — Dua dai kondang Indonesia, Ustaz Das’ad Latif dan Ustaz Abdul Somad (UAS), menyampaikan pesan penuh makna kepada para pemimpin Indonesia saat berada di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi.
Pesan tersebut disampaikan bertepatan dengan momentum bulan Maulid Nabi Muhammad SAW. Keduanya mengingatkan para pemegang kekuasaan agar tidak memandang jabatan semata sebagai kehormatan, melainkan sebagai amanah dan ujian dari Allah SWT.
Dalam pesannya, Das’ad Latif menekankan bahwa jabatan sebagai kepala daerah, anggota legislatif, menteri hingga presiden merupakan bentuk ujian untuk melihat sejauh mana kekuasaan digunakan bagi kepentingan masyarakat.
“Menjadi bupati, menjadi anggota dewan, menjadi menteri, menjadi presiden, bukanlah dosa. Yang utama adalah bagaimana jabatan itu dimanfaatkan,” pesan tersebut disampaikan.
Ia mengingatkan, seorang pejabat telah memperoleh berbagai bentuk kemuliaan dan fasilitas, mulai dari status sosial, kekayaan hingga kewenangan yang tidak dimiliki masyarakat biasa.
Namun, menurutnya, semua fasilitas tersebut harus dikembalikan manfaatnya kepada rakyat.
“Allah cuma meminta, pikirkan rakyat,” tegasnya.
Das’ad menyoroti masih adanya masyarakat yang kesulitan mendapatkan pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup. Kondisi ekonomi yang berat, kata dia, bahkan dapat memicu persoalan sosial dan konflik dalam keluarga.
Karena itu, ia mengajak para pemimpin menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk menghadirkan kebijakan yang benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Jabatan dan Harta Juga Bentuk Ujian
Pesan tersebut juga mengingatkan bahwa ujian dari Allah SWT tidak selalu datang dalam bentuk kesulitan, sakit, kemiskinan atau penderitaan.
Kekuasaan, popularitas dan harta juga dapat menjadi bentuk ujian.
“Wa balaunahum bil hasanat, kami uji mereka dengan hasanat: jabatan, kekuasaan, popularitas, harta,” demikian pesan yang disampaikan.
Menurutnya, ketika seseorang mendapatkan kewenangan, maka kewenangan itu harus digunakan untuk menghadirkan kemaslahatan. Ia mencontohkan bagaimana keputusan seorang pejabat melalui satu tanda tangan dapat menghasilkan kebijakan besar yang berdampak luas bagi masyarakat.
Karena itu, kesempatan memegang jabatan jangan sampai disia-siakan.
“Ketika Allah berikan itu, pakailah. Jangan sampai menjadi penyesalan,” pesannya.
Ia juga mengingatkan bahwa semakin besar amanah yang diberikan, semakin besar pula pertanggungjawaban yang akan dihadapi.
“Ketika ada orang yang sudah diberikan Allah SWT, tidak dia pakai, maka ruginya dua kali. Kenapa? Karena hisabnya lama,” lanjutnya.
Bukan Kritik, tetapi Ikhtiar Menyelamatkan
Dalam pesan tersebut, keduanya juga menegaskan bahwa nasihat kepada pemimpin tidak dimaksudkan sebagai permusuhan maupun upaya menyudutkan pihak tertentu.
Sebaliknya, kritik dan nasihat dipandang sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama anak bangsa.
“Mereka ingin menyelamatkan saudara kita, sahabat kita yang sedang diuji dengan dua hasanat: kekuasaan dan harta,” demikian pesan tersebut.
Dari Kota Madinah, doa pun dipanjatkan agar para pemimpin Indonesia diberikan kemudahan dalam menjalankan amanah.
“Semoga tuan-tuan sekalian Allah mudahkan pikirannya, Allah mudahkan langkah-langkahnya untuk memikirkan rakyat,” ujarnya.
Pesan dari Masjid Nabawi itu pun menjadi pengingat bahwa kekuasaan bukan sekadar fasilitas dan kehormatan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan.
Di tengah momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, pesan kedua dai tersebut kembali menempatkan kepentingan rakyat sebagai salah satu ukuran penting dalam menjalankan kekuasaan.
“Jabatan dan harta bukan hanya nikmat, tetapi juga ujian. Gunakan amanah itu untuk kemaslahatan rakyat sebelum semuanya dipertanggungjawabkan.”***











