Hilirisasi Membutuhkan Efisiensi
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan, transformasi industri perlu didukung peningkatan kapasitas produksi dan pengolahan, termasuk melalui teknologi, infrastruktur, dan efisiensi.
Menurut Yuliot, potensi sumber daya Indonesia perlu diterjemahkan menjadi nilai tambah yang lebih besar di dalam negeri. Karena itu, pengembangan industri ke depan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan volume produksi, tetapi juga penguatan rantai nilai dan daya saing.
Dalam konteks tersebut, penerapan teknologi menjadi semakin relevan. Efisiensi energi dan material, peningkatan produktivitas, pengelolaan air, keselamatan operasional, serta pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab menjadi bagian dari upaya meningkatkan daya saing industri.
Industri Perlu Bergerak dalam Satu Ekosistem
Transformasi berbasis teknologi juga membutuhkan dukungan ekosistem yang lebih terintegrasi. Wakil Menteri PPN Febrian Alphyanto Ruddyard menilai tantangan pembangunan bukan lagi sekadar menambah kebijakan, kerangka kerja, atau institusi.
Tantangan yang lebih besar adalah memastikan berbagai elemen tersebut dapat bekerja bersama melalui informasi yang terpadu, pembiayaan yang terkoordinasi, dan akuntabilitas bersama.
Menurut Febrian, kualitas pembangunan ditentukan sejak tahap perencanaan, investasi, pembangunan, hingga pengukuran kemajuan. Artinya, teknologi dan investasi perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang saling terhubung.
Perspektif tersebut menjadi relevan bagi sektor industri yang memiliki rantai pasok panjang. Penguatan satu bagian industri akan membutuhkan kesiapan bagian lainnya, mulai dari energi dan material hingga infrastruktur, utilitas, serta sistem mitigasi risiko.
Air dan Ketahanan Masuk dalam Agenda Transformasi
Aspek keberlanjutan juga dibawa ke dalam sejumlah forum yang berlangsung selama Engineering Week 2026.
Melalui Indonesia Water Forum (IWF) 2026, isu tata kelola air minum, swasembada air menuju Indonesia Emas 2045, serta transformasi tata kelola air minum dan air limbah menjadi bagian pembahasan.
Sementara itu, ADEXCO bersama The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 mempertemukan pemerintah, sektor swasta, akademisi, organisasi internasional, dan pemangku kepentingan untuk membahas ketahanan berkelanjutan.
Kedua agenda tersebut memperluas makna transformasi industri. Keberlanjutan tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga bagaimana industri memastikan ketersediaan sumber daya, menjaga keselamatan, serta mampu bertahan menghadapi berbagai gangguan.











