INTERNASIONAL, Radarjakarta.id – Pemerintah Arab Saudi mengambil langkah tegas dengan mengusir sejumlah diplomat dari Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Timur Tengah.
Dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Saudi tertanggal 21 Maret 2026, disebutkan bahwa atase militer Iran, asistennya, serta tiga anggota staf misi diplomatik lainnya telah dinyatakan sebagai persona non grata atau orang yang tidak diinginkan. Mereka diwajibkan meninggalkan wilayah Arab Saudi dalam waktu 24 jam sejak pemberitahuan disampaikan.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas situasi yang disebut sebagai eskalasi tindakan Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Meski tidak dirinci secara spesifik, keputusan ini menandai meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara.
Pengusiran diplomat merupakan salah satu tindakan paling serius dalam hubungan internasional, yang umumnya mencerminkan memburuknya hubungan bilateral secara signifikan. Keputusan ini pun menarik perhatian global, mengingat hubungan Arab Saudi dan Iran selama ini diwarnai rivalitas geopolitik yang berdampak luas di kawasan.
Ketegangan meningkat dalam beberapa waktu terakhir, seiring laporan mengenai serangan rudal dan drone yang diklaim menargetkan wilayah Arab Saudi. Otoritas setempat menyebut sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, namun intensitasnya tetap menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas regional.
Sebelumnya, hubungan kedua negara sempat menunjukkan perbaikan setelah normalisasi diplomatik pada 2023. Upaya tersebut dilakukan untuk meredakan ketegangan setelah bertahun-tahun konflik dan persaingan pengaruh di berbagai negara Timur Tengah.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa hubungan Riyadh dan Teheran kembali menghadapi ujian serius. Sejumlah pihak menilai situasi ini berpotensi memperburuk stabilitas kawasan, terutama di tengah dinamika konflik yang masih berlangsung di beberapa titik strategis.
Selain berdampak pada aspek keamanan, ketegangan ini juga dikhawatirkan memengaruhi sektor energi global. Kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dan gas dunia memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas pasokan energi internasional.
Para pengamat menilai, langkah diplomatik yang diambil Arab Saudi menjadi sinyal bahwa situasi saat ini memerlukan perhatian serius dari komunitas internasional guna mencegah eskalasi lebih lanjut.***











