JAKARTA, Radarjakarta.id – Yayasan Mitra Netra meluncurkan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia sebagai upaya mendorong inklusivitas di sektor ketenagakerjaan, di tengah masih rendahnya partisipasi kerja penyandang disabilitas.
Kepala Bagian Tenaga Kerja Mitra Netra, Aria Indrawati mengatakan, direktori ini menjadi langkah strategis untuk menjembatani potensi tenaga kerja tunanetra dengan kebutuhan industri.
“Penerbitan Direktori Pekerjaan Tunanetra Indonesia merupakan langkah strategis dalam menyelaraskan potensi tenaga kerja dengan kebutuhan industri nasional. Direktori ini diharapkan mampu mendorong kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan budaya kerja yang inklusif disabilitas,” ujar Aria dalam media gathering di Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Data BPS 2024 mencatat dari 17,8 juta penyandang disabilitas di Indonesia, tingkat partisipasi kerja baru mencapai 23,94 persen. Sementara itu, data DTSEN menunjukkan dari 4,2 juta penyandang disabilitas netra, hanya sekitar satu persen yang bekerja di sektor formal.
Rendahnya penyerapan tenaga kerja tunanetra antara lain disebabkan minimnya pemahaman perusahaan terhadap kemampuan dan metode kerja tunanetra. Selain penyediaan aksesibilitas fisik dan digital, perusahaan juga perlu memberikan akomodasi kerja yang disesuaikan dengan kebutuhan individu.
Pemanfaatan teknologi asistif seperti NVDA serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) turut membuka peluang lebih luas, melalui fitur seperti text-to-speech dan deskripsi gambar otomatis.
Direktori yang diluncurkan memuat 36 profesi yang telah dijalani tunanetra di Indonesia, mencakup sektor teknologi, kebijakan, administrasi, komunikasi, pendidikan, keuangan, dan profesi lainnya. Dokumen ini diharapkan menjadi referensi bagi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun sistem rekrutmen yang inklusif.
Sejumlah praktik baik menunjukkan bahwa inklusi kerja tunanetra telah berjalan di berbagai sektor. Sigit Yulyadi, digital customer service di PT Mahanagari Nusantara Bandung, mampu melayani pelanggan secara mandiri dengan bantuan teknologi pembaca layar. Andira Pramatyasari, ASN di Biro Hukum Pemprov DKI Jakarta, berkontribusi dalam penanganan pengaduan masyarakat dan penyusunan kajian hukum.
Di sektor teknologi, CEO Imamatek, Agung Sachli menilai keterlibatan tunanetra sebagai software tester memberikan nilai tambah bagi perusahaan.
“Kolaborasi ini membuktikan bahwa quality controller tunanetra memiliki ketajaman dalam mengevaluasi alur logika aplikasi yang sering terlewatkan,” kata Agung.
Sementara itu, sektor layanan kesehatan juga mulai menerapkan inklusivitas melalui penempatan staf tunanetra di contact center.
“Dengan teknologi dan pendampingan yang tepat, staf tunanetra mampu menjalankan peran di contact center sekaligus menghadirkan empati lebih dalam layanan pasien,” demikian disampaikan perwakilan Jakarta Eye Center.
Mitra Netra menegaskan bahwa keberhasilan membangun ekosistem kerja inklusif memerlukan kolaborasi lintas sektor. Implementasi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, termasuk pemenuhan kuota tenaga kerja, perlu dilakukan secara berkualitas, bukan sekadar administratif.
Sebagai dukungan konkret, Mitra Netra menyediakan layanan pendampingan bagi perusahaan melalui job coach, mulai dari identifikasi peluang kerja, penyesuaian lingkungan kerja, hingga pelatihan interaksi inklusif bagi karyawan. Organisasi ini juga berkomitmen memanfaatkan perkembangan teknologi dan AI untuk memperluas peluang karier tunanetra di masa depan.
Peluncuran direktori ini diharapkan menjadi katalis dalam menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang lebih inklusif dan berkeadilan di Indonesia.
Seluruh lapisan masyarakat serta pemangku kepentingan dapat mengakses dokumen lengkap tersebut guna menjadi referensi bersama melalui https://bit.ly/Direktori_Pekerjaan_Tunanetra_Indonesia atau dapat diakses melalui website Mitra Netra.











