JAKARTA, RadarJakarta.id — Tidak semua perjalanan menuju Istana dimulai dari pintu yang megah. Bagi Stanislaus Jumar Sudiyana, perjalanan panjang sebagai wartawan kepresidenan justru berawal dari meja operator telepon di Radio Sonora. Kisah itulah yang diangkat dalam buku Operator Telepon Jadi Wartawan Kepresidenan: 25 Tahun Berkarya di Radio Sonora, yang dibahas dalam acara bedah buku di Markas PWI Jaya, Gedung Bank Jakarta, Jalan Suryopranoto, Jakarta Pusat, Jumat (30/10/2026) sore.
Buku terbitan Jembatan Literasi Nusantara tersebut bukan sekadar catatan perjalanan karier, melainkan refleksi tentang ketekunan, pendidikan, integritas, dan independensi pers. Dalam diskusi yang dibuka Ketua PWI Jaya Kesit Budi Handoyo itu, hadir Direktur Radio Sonora, Mayong Suryo Laksono, Bagus Sudarmanto, serta sejumlah insan jurnalistik dan akademisi. Kesit mengapresiasi Jumar sebagai wartawan yang tidak memilih medan liputan dan tidak menawar waktu, sementara pihak Radio Sonora menyebutnya sebagai sosok jurnalis yang dapat diandalkan.
Bagi Mayong Suryo Laksono, menulis buku merupakan salah satu pencapaian penting dalam perjalanan seorang wartawan. Pengalaman yang selama ini tersimpan dalam ingatan dan catatan lapangan akhirnya dapat didokumentasikan agar dibaca generasi berikutnya. Sementara itu, Bagus Sudarmanto menekankan pentingnya menjaga integritas dan independensi di tengah tantangan profesi. Apresiasi tersebut menempatkan buku Jumar bukan hanya sebagai kisah personal, tetapi juga sebagai bahan refleksi bagi dunia jurnalistik.
Salah satu pesan kuat dalam buku itu tertuang pada halaman 115: “Semua itu saya jalani tanpa jalan pintas.” Kalimat tersebut merangkum perjalanan dari operator telepon hingga mendapat kepercayaan meliput Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada periode 2012–2014. Buku ini juga mengangkat pengalaman ketika Jumar menolak pemberian amplop dari narasumber polisi demi menjaga kebebasan menyampaikan informasi. “Biar saya tetap bisa bicara leluasa di udara,” tulisnya. Kisah itu mengingatkan bahwa independensi wartawan tidak hanya diuji ketika berhadapan dengan kekuasaan, tetapi juga melalui keputusan kecil dalam keseharian.
Selain integritas, pendidikan dan kemampuan beradaptasi menjadi tema penting. Pesan ayahnya, “Kamu boleh miskin harta, tapi tidak boleh miskin ilmu,” menegaskan arti belajar sepanjang hayat. Jumar juga menyoroti perubahan industri penyiaran melalui pernyataan, “Radio tidak mati. Ia hanya berubah bentuk, dan dalam perubahan itu, radio menemukan relevansi baru.” Refleksi ini relevan ketika media dituntut mengikuti perkembangan digital tanpa mengorbankan akurasi, kredibilitas, dan kepercayaan publik.
Diskusi berlangsung dinamis dengan pertukaran pengalaman mengenai liputan, tantangan profesi, dan perubahan dunia pers. Respons positif peserta turut menguatkan pesan bahwa pengalaman wartawan layak ditulis menjadi buku, bukan hanya disimpan sebagai kenangan pribadi. Namun, nilai sebuah karya jurnalistik tetap terletak pada kejujuran, ketepatan informasi, serta kesediaan menjaga jarak kritis terhadap pihak yang diliput. Karena itu, pengalaman meliput tokoh penting perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab kepada masyarakat.
Melalui bedah buku di PWI Jaya, perjalanan Jumar menghadirkan pelajaran bahwa karier tidak dibangun dalam semalam dan reputasi tidak cukup ditentukan oleh jabatan maupun akses. Seorang wartawan boleh melangkah hingga ke Istana, tetapi integritaslah yang menentukan nilai pengabdiannya. Buku ini sekaligus menjadi ajakan bagi insan pers untuk mendokumentasikan pengalaman, memperkuat tradisi literasi, dan mewariskan pelajaran jurnalistik kepada generasi berikutnya.***











