JAKARTA, Radarjakarta.id – Pengembangan ekosistem bullion nasional membutuhkan dukungan infrastruktur yang mampu menghubungkan kepemilikan emas, teknologi digital, dan distribusi kepada masyarakat.
Melihat kebutuhan tersebut, LAKUEMAS terus memperkuat perannya dalam membangun akses investasi emas yang lebih luas melalui integrasi layanan digital dan fisik. Komitmen ini disampaikan dalam partisipasi perusahaan pada Investor Daily Summit 2026.
Dalam forum yang mempertemukan pemerintah, pelaku industri, investor, dan pemangku kepentingan ekonomi itu, LAKUEMAS menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor untuk mendorong perkembangan industri emas Indonesia. Perusahaan memandang digitalisasi sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan efisiensi distribusi sekaligus mendekatkan layanan emas kepada masyarakat.
Upaya tersebut mendapat apresiasi melalui penghargaan Excellence in Digital Gold Financial Innovation yang diterima LAKUEMAS dalam rangkaian Investor Daily Summit 2026. Penghargaan berdasarkan penilaian tim riset datasatu.com dan dewan juri itu menjadi pengakuan atas kontribusi perusahaan dalam pengembangan inovasi keuangan digital di Indonesia.
Co-Founder LAKUEMAS, Minarni Tanu mengatakan, penghargaan tersebut menjadi motivasi untuk melanjutkan pengembangan layanan emas yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Penghargaan ini menjadi apresiasi yang sangat berarti bagi LAKUEMAS, sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan kami sejak 2018 bukan hanya tentang membangun sebuah platform digital gold, tetapi tentang membangun akses yang lebih mudah, aman, dan relevan bagi masyarakat untuk mengenal dan berinvestasi emas,” ujar Minarni.
Menurutnya, pembangunan ekosistem bullion tidak dapat dilakukan secara terpisah. Keterlibatan pemerintah, BUMN, pelaku industri, penyedia teknologi, dan sektor swasta diperlukan untuk menciptakan keterhubungan yang lebih kuat antara infrastruktur, distribusi, dan kebutuhan investor.
Pertumbuhan Pasar Dorong Kebutuhan Akses yang Lebih Luas
Peluang pengembangan ekosistem bullion juga tercermin dari peningkatan permintaan emas untuk investasi. Data yang dipaparkan LAKUEMAS dalam Investor Daily Summit 2026 menunjukkan permintaan emas batangan dan koin (bar and coin) di Indonesia meningkat dari 19,09 ton pada 2020 menjadi 55,82 ton pada 2025.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin besarnya perhatian masyarakat terhadap emas sebagai instrumen pengelolaan kekayaan. Kondisi ini sekaligus membuka peluang bagi penyedia layanan untuk menghadirkan mekanisme transaksi yang lebih praktis, transparan, dan terintegrasi.
Co-Founder LAKUEMAS, Handi Irawan, menilai distribusi dan akses menjadi aspek penting dalam perkembangan pasar bullion. Menurutnya, teknologi digital dapat membantu memperluas jangkauan layanan yang sebelumnya lebih bergantung pada kanal konvensional.
“Kehadiran platform digital memberikan jawaban karena kita bisa meningkatkan distribusi dan juga memberikan akses yang mudah kepada begitu banyak customer di Indonesia,” kata Handi.
Ia menegaskan bahwa emas digital bukan sekadar aset virtual, melainkan cara untuk mempermudah akses terhadap emas dengan dukungan aset dasar (underlying) dan infrastruktur yang jelas.
“Digital gold bagi kami bukan virtual gold. Digital adalah cara yang lebih mudah untuk mengakses real gold yang memiliki underlying dan infrastruktur yang jelas,” ujarnya.











