MOSKOW, Radarjakarta.id – Ketika dunia berlomba mengembangkan kecerdasan artifisial, Indonesia memiliki cerita membanggakan tentang kecerdasan manusia: anak-anak muda yang terus mengukir prestasi, atlet yang mengharumkan nama bangsa, serta kebijakan olahraga yang semakin mengandalkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pembinaan berkelanjutan.
Cerita tersebut menjadi bagian dari perspektif Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang hadir sebagai pembicara dalam Global Digital Forum II 2026 di Moskow, Rusia.
Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi.
Dalam presentasinya bertajuk “Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity? From Language Availability to Language Agency”, Devie menekankan bahwa masa depan teknologi harus bergerak melampaui kecanggihan mesin menuju penguatan kemampuan, martabat, dan kemandirian manusia.
Menurutnya, negara yang berhasil dalam transformasi digital bukan semata negara yang paling cepat mengadopsi teknologi, melainkan negara yang mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas generasi muda.
“Dunia sedang berlomba membuat mesin semakin cerdas. Tetapi bangsa yang akan memimpin masa depan adalah bangsa yang juga semakin serius mencerdaskan, menyehatkan, dan memberdayakan manusianya. Teknologi memberi kecepatan, pendidikan memberi kemampuan, olahraga membentuk ketangguhan, dan karakter menjaga arah kemajuan,” ujar pembicara tamu di antaranya di Australia, Inggris, Jepang, Malaysia, Korea Selatan.
Bagi Devie, semangat tersebut memiliki relevansi kuat dengan perkembangan kebijakan kepemudaan dan olahraga Indonesia di Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta transformasi pembinaan bulu tangkis nasional sejak kepemimpinan baru pada tahun 2024 akhir. Momentum tersebut semakin bermakna setelah Indonesia mencatatkan prestasi membanggakan pada Asian Games Aichi–Nagoya 2026 di Jepang. Kontingen Merah Putih berhasil meraih lima medali emas, 11 perak, dan 23 perunggu, melampaui target empat emas yang ditetapkan pemerintah.
Dua medali emas disumbangkan cabang bulu tangkis melalui nomor beregu putra serta pasangan ganda putra Prestasi ini menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya memiliki kekayaan talenta, tetapi juga kemampuan membangun kolaborasi yang mengubah potensi menjadi pencapaian.
Devie mengapresiasi arah kebijakan Kemenpora yang menempatkan pembangunan kepemudaan dan peningkatan prestasi olahraga sebagai dua agenda strategis yang saling menguatkan. Dalam menghadapi perubahan teknologi, dunia kerja, dan persaingan internasional, Kemenpora terus memperkuat program yang mengembangkan kepemimpinan, keterampilan, karakter, kewirausahaan, serta jejaring generasi muda.
Berbagai inisiatif seperti Wirasena Youth Camp, Youth Summit, Wirasena Youth Career Hub, dan Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) menjadi bagian dari upaya memperluas pengalaman dan kapasitas pemuda Indonesia.
Sementara itu, penguatan keterampilan digital melalui program seperti DIGDAYA memperlihatkan perhatian terhadap kesiapan generasi muda menghadapi perubahan ekonomi berbasis teknologi. Devie menilai pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan yang dibawanya dalam Global Digital Forum.
“Di era AI, anak muda tidak cukup hanya pandai menggunakan aplikasi. Mereka perlu mampu berpikir kritis, menciptakan karya, membangun usaha, memimpin komunitas, dan menyelesaikan persoalan masyarakat. Karena itu, saya mengapresiasi arah kebijakan Kemenpora yang mempertemukan pengembangan kepemimpinan dengan kecakapan masa depan,” jelas penerima Australia Award ini.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan kepemudaan perlu dilihat dari semakin luasnya kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang dan memberikan kontribusi nyata. “Pemuda bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, mereka adalah pencipta masa depan pembangunan itu sendiri. Jangan hanya menyiapkan generasi yang siap bekerja, tetapi juga generasi yang siap berkarya, berdaya, dan membawa Indonesia berjaya,” tambahnya.
Di bidang olahraga, Kemenpora juga memperkuat pendekatan pembinaan yang lebih terukur melalui pengembangan cabang olahraga unggulan, manajemen talenta, akademi olahraga, beasiswa atlet, serta pemanfaatan sport science. Penguatan fasilitas pembinaan, termasuk ekosistem Cibubur, menjadi bagian dari upaya membangun kesinambungan prestasi nasional.
“Prestasi tidak cukup dibangun melalui semangat sesaat. Prestasi membutuhkan sistem yang kuat, pembinaan yang konsisten, dan kepemimpinan yang mampu menyatukan banyak pihak. Ketika negara semakin serius membangun fondasi itu, kita sedang menyiapkan lebih banyak kesempatan bagi generasi juara berikutnya,” ujarnya.
Lima Emas Asian Games: Buah Kerja Bersama Ekosistem Olahraga
Keberhasilan Indonesia melampaui target Asian Games 2026 menjadi momentum positif bagi penguatan olahraga nasional. Devie menilai prestasi tersebut patut dirayakan sebagai keberhasilan bersama, sekaligus menjadi modal untuk memperkuat pembinaan menuju kompetisi internasional berikutnya.
“Ketika seorang atlet berdiri di podium, kita melihat satu wajah yang menerima medali. Tetapi di baliknya ada begitu banyak pengabdian: pelatih yang membimbing, keluarga yang mendukung, tenaga kesehatan yang merawat, ilmuwan yang menganalisis, serta organisasi yang menjaga proses pembinaan,” ujarnya.
Menurutnya, keberhasilan olahraga modern semakin bergantung pada kemampuan membangun sistem yang tidak hanya menghasilkan satu kemenangan, tetapi mampu melahirkan prestasi secara berulang.
“Medali adalah hasil yang terlihat. Disiplin, pengetahuan, dan kerja sama adalah kekuatan yang membuat hasil itu mungkin terjadi.”
Dalam kerangka kebijakan Kemenpora, penguatan pembinaan atlet muda terus dikembangkan melalui berbagai program dan fasilitas, termasuk Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional (SLOMPN), Sentra Pembinaan Olahragawan Berbakat Nasional (SPOBNAS), dan Cibubur Youth Athlete Training Center.
Di tengah persaingan bulu tangkis internasional yang semakin ketat, transformasi pembinaan di bawah kepemimpinan baru PP PBSI sejak akhir 2024, menjadi perkembangan yang patut diapresiasi. Bulu tangkis telah lama menjadi salah satu identitas prestasi Indonesia di dunia. Namun, mempertahankan tradisi juara memerlukan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan metode pelatihan, analisis performa, dan teknologi olahraga.
Salah satu langkah penting Pengurus PBSI Pusat adalah pengembangan PBSI Sport Science Analytics, platform yang mendukung pengintegrasian informasi mengenai kondisi kesehatan, kebugaran, cedera, nutrisi, dan perkembangan atlet.
Pemanfaatan data tersebut membantu tim pendukung memahami kebutuhan atlet secara lebih terstruktur serta memperkuat proses evaluasi latihan. Pendekatan ini melibatkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu, mulai dari pelatih teknik dan fisik, dokter olahraga, fisioterapis, ahli gizi, psikolog, hingga analis performa.
Transformasi tersebut juga memperlihatkan penguatan tata kelola organisasi olahraga yang semakin profesional dan berbasis pengetahuan. Bagi Devie, langkah PBSI relevan dengan perubahan besar yang sedang berlangsung dalam dunia kecerdasan artifisial.
“Dalam dunia AI, data membantu kita mengenali pola, memahami perubahan, dan memperbaiki keputusan. Dalam olahraga, prinsipnya serupa. Ketika pengalaman pelatih dipadukan dengan sport science, kita tidak sedang menggantikan intuisi manusia dengan mesin. Kita sedang memperkuat keputusan manusia dengan pengetahuan yang lebih lengkap,” jelasnya.
Devie menilai pendekatan tersebut penting karena kompetisi olahraga modern ditentukan oleh berbagai faktor yang saling berhubungan. Performa atlet tidak hanya bergantung pada keterampilan teknik, tetapi juga pemulihan fisik, pengaturan beban latihan, kesiapan psikologis, strategi pertandingan, dan pencegahan cedera.
“Indonesia sudah memiliki tradisi juara yang luar biasa dalam bulu tangkis, yang membanggakan hari ini ialah ketika tradisi itu, semakin diperkuat dengan upaya membangun sistem berbasis ilmu pengetahuan. Bukan hanya mengandalkan bakat, tetapi merawatnya dengan riset; bukan hanya mengejar medali, tetapi membangun regenerasi,” ujar Devie.
Dari Global Digital Forum: Indonesia Memiliki Pelajaran tentang Teknologi yang Memanusiakan
Dalam Global Digital Forum II, Devie mengangkat pentingnya pergeseran dari sekadar ketersediaan teknologi menuju kemampuan masyarakat menggunakan teknologi secara mandiri dan bermakna. Menurutnya, kecerdasan artifisial harus dipahami sebagai sarana untuk memperkuat kapasitas manusia, bukan tujuan akhir pembangunan.
Prinsip tersebut memiliki relevansi langsung dengan pengembangan kepemudaan dan olahraga. Dalam pembinaan atlet, teknologi dapat membantu menganalisis pola pertandingan, memantau kondisi fisik, dan menyusun evaluasi performa.
Namun, teknologi tidak dapat menggantikan keberanian menghadapi tekanan, semangat berlatih, kemampuan bekerja sama, dan keteguhan untuk bangkit setelah mengalami kekalahan. “AI dapat membantu membaca data pertandingan, tetapi tidak dapat menggantikan keberanian atlet ketika menghadapi tekanan. Teknologi dapat menghitung beban latihan, tetapi tidak dapat menggantikan ketekunan. Kecanggihan memperkuat persiapan, tetapi karakter menentukan perjuangan,” ujar Devie.
Devie menilai bahwa kebijakan Kemenpora dan transformasi PBSI Pusat menunjukkan bagaimana pembangunan manusia dapat memperoleh manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
“Ketika kita berbicara tentang masa depan AI di forum internasional, Indonesia memiliki alasan untuk optimistis. Kita memiliki generasi muda yang kreatif, tradisi olahraga yang kuat, serta upaya kelembagaan yang semakin menghubungkan data, sains, dan pengembangan manusia,” jelasnya.
Peneliti kajian digital ini berharap pengalaman Indonesia terus menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan global, termasuk mengenai pemanfaatan teknologi untuk pendidikan, olahraga, dan pengembangan generasi muda.
Devie juga menyoroti kekuatan olahraga sebagai instrumen diplomasi dan pembentukan reputasi bangsa. “Diplomasi tidak selalu berlangsung melalui pidato dan perundingan. Kadang-kadang, pesan paling kuat tentang sebuah bangsa justru disampaikan oleh atlet yang berjuang di lapangan, kemudian membuat seluruh dunia berdiri menyaksikan benderanya dikibarkan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, keberhasilan Indonesia pada Asian Games 2026 menjadi sumber kebanggaan sekaligus pengingat bahwa prestasi internasional membutuhkan pembinaan yang terus diperkuat.
“Dunia boleh berlomba menciptakan mesin yang semakin cerdas, tapi Indonesia harus terus melahirkan manusia yang semakin berkualitas. Maka ketika sains menguatkan latihan, teknologi mempertajam keputusan, pengalaman menuntun perjuangan, lalu karakterlah yang melahirkan kemenangan,” tutup Devie.











