JAKARTA, Radarjakarta.id – Nilai tukar rupiah kembali menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa, 29 September 2026. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di posisi Rp18.001 per dolar AS, melemah 0,13 persen atau 23 poin dari penutupan sebelumnya Rp17.978 per dolar AS.
Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah penguatan dolar AS dan meningkatnya imbal hasil surat utang pemerintah AS. Reuters melaporkan yield Treasury AS bertenor 10 tahun mencapai sekitar 5,27 persen, level tertinggi dalam 19 tahun, sehingga meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS.
Bank Indonesia sebelumnya menjelaskan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi pengetatan kebijakan moneter AS di tengah kekhawatiran inflasi global. Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Selain faktor dolar AS dan yield Treasury, kenaikan harga minyak dunia turut menjadi perhatian pasar. Harga energi yang meningkat dapat memperkuat kekhawatiran inflasi global dan mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan suku bunga AS bertahan lebih tinggi. Tekanan eksternal tersebut ikut memengaruhi pergerakan rupiah.
Dari sisi kebijakan domestik, BI pada 23 September 2026 mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75 persen. BI menyatakan akan mengoptimalkan instrumen moneter, memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperluas insentif untuk mendorong aliran masuk investasi portofolio asing.
Pada Selasa, 29 September 2026, BI juga menyatakan tetap konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea menyebut intervensi tersebut dilakukan untuk mengendalikan volatilitas dan mendukung nilai tukar rupiah.
Dengan demikian, level Rp18.000 per dolar AS mencerminkan kuatnya tekanan eksternal terhadap rupiah, terutama dari kenaikan yield AS, penguatan dolar, harga minyak, dan ketidakpastian pasar global. Pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan kebijakan moneter AS, pasar energi, arus modal, serta langkah stabilisasi Bank Indonesia.***











