UNGARAN, Radarjakarta.id – Suara riang anak-anak terdengar dari sebuah sekolah sederhana yang berada tak jauh dari pintu masuk kawasan wisata Air Terjun Semirang, Desa Gogik, Kabupaten Semarang. Di tengah hijaunya perbukitan dan jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, puluhan anak usia dini belajar, bermain, dan mengenal dunia. Sekolah itu adalah RA Masyitoh, sebuah Raudhatul Athfal (RA) yang setara dengan Taman Kanak-Kanak (TK) dan berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Hari ini, ada 21 anak di TKA dan 11 anak di TKB belajar di sekolah tersebut. Jumlah itu jauh berbeda dibanding beberapa tahun lalu, ketika RA Masyitoh hanya memiliki 10 anak di TKA dan 9 anak di TKB. Di balik pertumbuhan tersebut, perjalanan RA Masyitoh tidak selalu mudah. Keterbatasan sarana dan prasarana, bangunan yang mulai terlihat usang, hingga minimnya alat permainan edukatif (APE) menjadi tantangan yang harus dihadapi sekolah.
Belajar di usia dini berarti memiliki ruang untuk bergerak, bermain, bereksplorasi, berkreasi, sekaligus membangun rasa percaya diri. Sekolah dengan fasilitas tambahan seperti drumband juga cenderung lebih menarik minat orang tua. Bagi anak-anak, suara musik, alat drumband, dan aktivitas bermain bersama menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan. RA Masyitoh pun menghadapi tantangan untuk membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas tidak boleh menjadi batas bagi kesempatan anak-anak untuk tumbuh dan belajar.
Harapan baru mulai tumbuh pada 2024 ketika PLN Unit Induk Pusat Pengatur Beban Jawa, Madura, dan Bali (UIP2B Jamali) melalui Unit Pelaksanan Pengatur Beban Jawa Tengah & D.I. Yogyakarta (UP2B Jateng dan DIY) hadir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertajuk “Dukungan Pendidikan Anak Usia Dini di Kabupaten Semarang”.
Dukungan tersebut tidak hanya menyentuh bangunan dan fasilitas sekolah, tetapi juga penguatan kualitas pendidikan. Para guru RA Masyitoh mendapatkan pembekalan mengenai Kurikulum Merdeka, pelatihan untuk anak usia dini, serta berbagai pengembangan kapasitas lainnya.
Sementara bagi para siswa, PLN menghadirkan pengalaman belajar yang lebih beragam melalui pengenalan robotik, permainan edukatif, edukasi wisata di Desa Wisata Lerep, serta pemberian seperangkat alat drumband dan seragam yang mendukung kegiatan seni dan kreativitas anak. Pembelajaran pun tidak lagi sebatas berlangsung di dalam kelas. Anak-anak diajak mengenal teknologi, berkreasi, bereksplorasi, dan melihat bahwa dunia mereka jauh lebih luas dari lingkungan tempat tinggalnya.
Perubahan juga terasa pada ruang belajar RA Masyitoh. Sekolah mendapatkan kipas angin, sound system, CCTV, lemari buku, serta APE yang lebih lengkap. Dukungan juga diberikan melalui Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sebagai dukungan terhadap pemenuhan gizi anak. Berbagai fasilitas tersebut menjadi bagian dari proses anak belajar melalui permainan, mengenal bentuk, warna, dan angka, belajar bekerja sama, memecahkan masalah, mengembangkan motorik, serta berkreasi.
General Manager PLN UIP2B JAMALI, Munawwar Furqan, menyampaikan bahwa dukungan terhadap pendidikan anak usia dini merupakan bagian dari upaya PLN untuk membuka kesempatan belajar yang lebih baik bagi anak-anak.
“Pendidikan adalah proses yang dimulai sejak usia dini. Kami berharap dukungan ini dapat memberikan manfaat bagi sekolah, para guru, dan terutama anak-anak di RA Masyitoh,” ujar Munawwar.
Pada akhirnya, program TJSL PLN di RA Masyitoh bukan sekadar tentang fasilitas sekolah. Dampaknya terasa pada kesempatan yang terbuka lebih luas. Guru mendapatkan ruang untuk terus meningkatkan kapasitas, sekolah mendapatkan dukungan untuk berkembang, dan anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang lebih beragam.
Dukungan ini menjadi bagian dari komitmen PLN UP2B Jateng dan DIY dalam mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) poin 4: Pendidikan Berkualitas, khususnya melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan anak usia dini. Sebab pendidikan tidak selalu harus dimulai dari sekolah yang besar dan berada di tengah kota. Terkadang, pendidikan yang berarti tumbuh dari sebuah sekolah sederhana di balik perbukitan, tempat anak-anak kecil belajar memandang dunia dengan rasa ingin tahu. PLN hadir bukan sekadar memberikan bantuan, tetapi menyalakan kesempatan agar anak-anak memiliki ruang untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi.











