JAKARTA, Radarjakarta.id — Situasi di sekitar Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, terpantau aman dan kondusif pada Selasa (25/8/2026), dua hari menjelang rencana aksi unjuk rasa besar yang dijadwalkan berlangsung Kamis (27/8/2026).
Rencana demonstrasi tersebut menjadi perhatian setelah sejumlah kelompok masyarakat dari berbagai daerah menyatakan akan menggelar aksi di depan kompleks parlemen. Salah satu tuntutan utama yang digaungkan adalah percepatan pengesahan RUU Perampasan Aset, disertai tuntutan pemberantasan korupsi yang lebih tegas.
Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) menjadi salah satu kelompok yang tengah mematangkan keberangkatan massa menuju Jakarta. Persiapan dilakukan dengan menyiapkan sejumlah kendaraan untuk membawa peserta aksi dari Pati ke Gedung DPR RI.
Namun, aksi 27 Agustus tidak hanya diwarnai kelompok yang membawa tuntutan terhadap pemberantasan korupsi. Sejumlah kelompok lain juga berencana hadir dengan agenda berbeda, termasuk massa yang menyatakan dukungan terhadap program pemerintah. Kondisi ini membuat aparat meningkatkan pemantauan guna memastikan seluruh penyampaian aspirasi berlangsung tertib.
Polda Metro Jaya memastikan situasi Jakarta tetap aman dan aktivitas masyarakat berjalan normal menjelang aksi tersebut. Pengamanan serta pengaturan lalu lintas disiapkan secara situasional untuk mengantisipasi peningkatan konsentrasi massa di kawasan Senayan.
Dari sisi lalu lintas, pengguna jalan diimbau mengantisipasi kepadatan di sekitar Senayan dan sejumlah kawasan pusat Jakarta. Rekayasa lalu lintas dapat diberlakukan menyesuaikan perkembangan jumlah massa di lapangan. Pengendara yang tidak memiliki kepentingan disarankan memilih jalur alternatif dan memantau informasi lalu lintas sebelum bepergian.
Di tengah derasnya informasi mengenai rencana aksi di media sosial, Satuan Siber TNI juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum terverifikasi. Pesan tersebut menjadi penting agar suasana menjelang demonstrasi tetap tenang dan penyampaian aspirasi tidak berubah menjadi tindakan yang mengganggu keamanan.
Dengan dua hari menuju aksi utama, perhatian kini tertuju pada kemampuan seluruh pihak menjaga ruang demokrasi tetap aman. Aspirasi boleh disampaikan dengan lantang, tetapi ketertiban, keselamatan warga, serta penghormatan terhadap hukum tetap menjadi kunci agar Jakarta tetap kondusif.***











