NTT,Radarjakarta.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026 pukul 05.58 WITA. Hingga sepekan lebih setelah kejadian, upaya penanganan dan pemulihan masih terus dilakukan di sejumlah wilayah terdampak.
Lembaga Manajemen Infaq (LMI) melalui Laznas LMI mengerahkan tim kemanusiaan untuk membantu masyarakat terdampak gempa. Berdasarkan pembaruan data per 24 Agustus 2026 pukul 18.00 WITA, gempa utama yang berpusat di wilayah Kabupaten Nagekeo, sekitar Mbay, tersebut masih diikuti gempa-gempa susulan.
BMKG mencatat sedikitnya 3.131 kali gempa susulan terjadi setelah gempa utama.
Humanitarian Program Laznas LMI, Susanto, mengatakan tim di lapangan masih berupaya menjangkau masyarakat yang terdampak, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar warga di wilayah yang mengalami kerusakan.
“Respons kemanusiaan masih terus kami lakukan dengan fokus pada kebutuhan dasar masyarakat terdampak. Tim berupaya memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang membutuhkan, termasuk melalui layanan dapur umum, distribusi logistik, air bersih, layanan kesehatan, hingga evakuasi dan pencarian serta pertolongan,” kata Susanto.
3 Provinsi 9 Kabupaten 1 kotaTerdampak
Dampak gempa dilaporkan meluas ke sejumlah wilayah di Pulau Flores. Sedikitnya tujuh kabupaten tercatat masuk dalam wilayah terdampak, yakni Kabupaten Nagekeo, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Ende, Sikka, dan Manggarai Barat.
Data sementara yang dihimpun dari laporan kebencanaan menunjukkan dampak yang cukup besar. Sebanyak 58.360 rumah dilaporkan rusak, sementara 161.874 jiwa terdampak.
Selain kerusakan rumah warga, gempa juga berdampak pada fasilitas publik. Tercatat 130 ruas jalan terdampak, 356 fasilitas kesehatan rusak, 389 tempat ibadah rusak, serta 502 sekolah terdampak.
Sementara itu, jumlah korban tercatat 1.505 orang mengalami luka-luka dan 91 orang meninggal dunia.
Data tersebut masih bersifat dinamis dan terus diperbarui berdasarkan hasil asesmen serta laporan dari lapangan.
LMI Dirikan Pos Dapur Umum hingga Layanan Kesehatan
Dalam respons darurat, LMI menjalankan sejumlah program untuk membantu kebutuhan masyarakat terdampak.
Hingga pembaruan 24 Agustus 2026, LMI mencatat telah menjalankan 120 pos dapur umum, 130 pos dapur air, melakukan 1.934 distribusi logistik, serta memberikan 45 layanan kesehatan.
Selain itu, tim juga melakukan pencarian dan evakuasi, pendirian pos layanan, serta pendistribusian berbagai kebutuhan darurat.
Kebutuhan yang masih menjadi perhatian di lapangan antara lain alas tidur, terpal, air minum, dapur umum, baby kit, family kit, selimut, hygiene kit, genset, dan sembako.
Susanto menuturkan kebutuhan warga terdampak tidak hanya berkaitan dengan makanan, tetapi juga perlengkapan untuk menunjang kehidupan sehari-hari selama berada di lokasi pengungsian maupun wilayah yang terdampak kerusakan.
“Selain makanan dan air, masyarakat juga membutuhkan perlengkapan dasar seperti selimut, terpal, perlengkapan keluarga, kebutuhan bayi, hygiene kit, hingga dukungan energi berupa genset. Karena itu, respons kami diarahkan agar bantuan tidak hanya bersifat sesaat, tetapi mampu menjawab kebutuhan warga selama masa tanggap darurat,” ujarnya.
Empat Pos LMI Disiapkan
Untuk memperluas jangkauan pelayanan, LMI menyiapkan sejumlah titik pos kemanusiaan.
Pos utama berada di Desa Nanga Mbaling, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Sementara itu, terdapat tiga pos aju yang disiapkan untuk memperkuat pelayanan di wilayah lain. Pos Aju 1 berada di Mbay, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Pos Aju 2 berada di Desa Nanga Kantor Barat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat. Sedangkan Pos Aju 3 berada di Desa Wairtotang, Kecamatan Alok Timur, Maumere, Kabupaten Sikka.
Dari sisi sumber daya manusia, LMI mengerahkan 13 relawan, didukung 4 motor operasional dan 1 mobil rescue dalam respons pada fase H+7.
Secara keseluruhan, respons LMI pada fase tersebut telah menjangkau sekitar 1.210 penerima manfaat.
Fokus pada Wilayah dengan Kebutuhan Tinggi
Regional Manager LMI Bali Nusra sekaligus Koordinator Aksi, Achmad Ramadhani Prakoso, mengatakan pemilihan titik pos dilakukan untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Tim kami menempatkan pos di beberapa wilayah strategis agar respons dapat lebih cepat dan distribusi bantuan bisa menjangkau masyarakat terdampak. Pos utama menjadi pusat koordinasi, sementara pos aju berfungsi memperluas jangkauan layanan ke wilayah lainnya,” kata Achmad.
Menurut dia, kondisi di lapangan masih membutuhkan pemantauan karena aktivitas gempa susulan masih terjadi.
Karena itu, tim LMI tidak hanya melakukan distribusi bantuan, tetapi juga melakukan asesmen kebutuhan, pelayanan kesehatan, penyediaan makanan dan air, serta mendukung proses pencarian dan evakuasi apabila diperlukan.
“Kami terus melakukan pemantauan dan asesmen di lapangan. Data kebutuhan masyarakat terus bergerak sehingga bantuan juga harus menyesuaikan kondisi terbaru. Prinsipnya, kami berusaha agar masyarakat terdampak tetap mendapatkan kebutuhan dasar selama masa tanggap darurat,” ujarnya.
Bantuan Jangkau 2.229 Penerima Manfaat
Dalam laporan respons gempa secara keseluruhan, LMI mencatat 2.229 penerima manfaat telah mendapatkan layanan dan bantuan dari berbagai program yang dijalankan.
Program tersebut mencakup dapur umum, dapur air, distribusi logistik, dan layanan kesehatan.
Tim LMI juga melakukan penyisiran di sejumlah wilayah, meliputi Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Manggarai Barat, dan Sikka.
Achmad mengatakan respons kemanusiaan akan terus dilakukan dengan melihat perkembangan kondisi dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.
“Respons ini masih berjalan. Kami terus berkoordinasi dengan tim di lapangan dan melihat perkembangan kebutuhan masyarakat. Bantuan akan diarahkan ke wilayah yang membutuhkan dengan tetap memperhatikan hasil asesmen dan kondisi akses di lapangan,” katanya.
LMI menyebut data dampak dan penerima manfaat masih dapat berubah seiring proses pendataan. Tim di lapangan juga terus memperbarui informasi mengenai kondisi warga, kerusakan fasilitas, serta kebutuhan darurat pascagempa. pungkasnya. (tim)










