JAKARTA, Radarjakarta.id – Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat signifikan pada 2026 setelah konflik yang melibatkan Iran mengganggu rantai pasok energi dunia dan memicu kembali tekanan inflasi. Kondisi tersebut dinilai menambah beban perekonomian global yang sebelumnya masih berupaya pulih dari dampak pandemi Covid-19 serta perang Rusia-Ukraina.
Dalam pembaruan World Economic Outlook, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya mencapai 3 persen pada 2026, turun dibandingkan 3,5 persen pada 2025. Angka tersebut juga lebih rendah dari proyeksi IMF pada April lalu yang memperkirakan pertumbuhan sebesar 3,1 persen, menunjukkan dampak konflik yang diperkirakan berlangsung lebih lama dari perkiraan awal.
IMF menilai eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu serangan balasan terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah. Gangguan terhadap jalur distribusi energi, termasuk aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, menyebabkan harga minyak dan komoditas energi melonjak sehingga mendorong kenaikan harga barang dan jasa di berbagai negara.
Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa prospek ekonomi masih dibayangi ketidakpastian. Serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir memunculkan keraguan atas keberlangsungan gencatan senjata. Di sisi lain, pemerintah Amerika Serikat mencabut kebijakan yang sebelumnya membuka peluang ekspor minyak Iran ke pasar global, sehingga dikhawatirkan kembali menekan pasokan energi dunia.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump turut menanggapi perkembangan tersebut dalam pertemuan NATO di Turki dengan menyatakan bahwa ia meyakini gencatan senjata telah berakhir. Pernyataan itu menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas kawasan yang menjadi salah satu jalur distribusi energi terpenting di dunia.
IMF memperkirakan inflasi global akan meningkat menjadi 4,7 persen pada 2026, naik dari 4,1 persen pada 2025, terutama akibat tingginya harga energi dan komoditas. Lembaga itu menegaskan bahwa perkembangan konflik geopolitik dan stabilitas pasokan energi akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pertumbuhan ekonomi dunia dalam beberapa waktu ke depan.***











