JAKARTA, Radarjakarta.id – Di tengah kemeriahan Pekan Raya Jakarta (PRJ) Kemayoran, Jakarta Pusat menjadi magnet perayaan HUT ke-499 Kota Jakarta, ada kisah menarik dari para pedagang kerak telor. Kuliner yang selama ini dikenal sebagai ikon khas Betawi itu ternyata sebagian besar dijajakan oleh pedagang yang berasal dari luar Jakarta bukan dari suku Betawi.
Salah satunya adalah Suritno, yang akrab disapa Pak Roy (59), warga asal Pemalang, Jawa Tengah. Sejak 1985, ia rutin berjualan kerak telor setiap perayaan HUT Kota Jakarta. Di luar musim PRJ, Roy sehari-hari berprofesi sebagai pedagang bakso di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Meski merantau seorang diri dan tinggal di rumah kontrakan di Jakarta, sementara keluarganya menetap di Pemalang, semangat Roy untuk mempertahankan usahanya tidak pernah surut.
“Kalau Sabtu dan Minggu, omzet bisa sampai Rp2 juta sehari. Kalau Senin sampai Jumat, paling untung sekitar Rp400 ribuan,” ujar Roy kepada RadarJakarta.id, Senin (29/6/2026) malam.
Roy menjual kerak telor dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan di dalam area PRJ. Untuk kerak telor ayam dibanderol Rp25 ribu per porsi, sedangkan kerak telor bebek Rp30 ribu. Sementara di dalam arena PRJ, harga kerak telor ayam mencapai sekitar Rp40 ribu, sedangkan telur bebek Rp45 ribu per porsi.
Meski demikian, Roy tetap harus mengeluarkan biaya Rp500 ribu untuk iuran koperasi atau sewa tempat selama berjualan.
Berdasarkan penelusuran RadarJakarta.id, kondisi pedagang di sekitar pintu masuk PRJ juga berbeda. Sejumlah pedagang mengaku ada yang diwajibkan membayar biaya kepada salahsatu ormas tertentu agar dapat berjualan di lokasi tersebut. Informasi ini merupakan pengakuan pedagang dan belum dapat diverifikasi kepada pihak terkait.
Fakta lain yang cukup mengejutkan adalah keberadaan pedagang kerak telor yang justru didominasi oleh perantau. Dari hasil investigasi RadarJakarta.id, hanya satu pedagang yang benar-benar berasal dari suku Betawi, sementara lainnya berasal dari daerah seperti Garut dan Pemalang.
“Tidak ada orang Betawi yang berjualan kerak telor, Bang. Semuanya dari luar Jakarta alias pendatang,” ungkap salah seorang pedagang kepada RadarJakarta.id.
Fenomena ini menjadi ironi tersendiri. Kuliner yang telah lama menjadi simbol budaya Betawi kini lebih banyak dipertahankan oleh para perantau yang menggantungkan hidup dari ramainya perayaan HUT Jakarta setiap tahunnya. Di balik aroma gurih kerak telor yang selalu diburu pengunjung PRJ, tersimpan kisah perjuangan para pedagang yang berharap rezeki datang dari tradisi tahunan ibu kota.***











