JAKARTA, Radarjakarta.id – Suasana haru menyelimuti Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Senin (1/6/2026), saat Presiden RI Prabowo Subianto hadir langsung memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu. Kehadiran kepala negara menjadi simbol penghormatan bangsa kepada salah satu tokoh militer paling berpengaruh dalam sejarah pertahanan Indonesia.
Prabowo tiba di kompleks Kementerian Pertahanan pada pagi hari menggunakan kendaraan taktis Maung MV3 Garuda. Setibanya di lokasi, Presiden langsung menuju Aula Bhinneka Tunggal Ika, tempat jenazah mantan Menteri Pertahanan periode 2014-2019 tersebut disemayamkan sebelum diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata.
Di hadapan keluarga, para perwira tinggi TNI, pejabat negara, serta sahabat seperjuangan almarhum, Prabowo memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang selama puluhan tahun dikenal sebagai prajurit lapangan, pemimpin militer, sekaligus negarawan yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kedaulatan Indonesia.
Prosesi penghormatan berlangsung khidmat. Sejumlah tokoh nasional tampak hadir, termasuk Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, para mantan pejabat pertahanan, serta jajaran TNI dan Kementerian Pertahanan. Kehadiran mereka menjadi bukti besarnya penghormatan terhadap jejak pengabdian Ryamizard bagi bangsa dan negara.
Pemerintah memberikan penghormatan negara melalui upacara pemakaman militer di TMP Kalibata. Kementerian Pertahanan menegaskan bahwa prosesi tersebut merupakan bentuk penghargaan tertinggi kepada seorang prajurit dan negarawan yang sepanjang hidupnya mengabdikan diri bagi Indonesia, mulai dari medan tugas hingga kursi strategis pemerintahan.
Ryamizard Ryacudu wafat di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta pada Minggu (31/5/2026) pukul 14.03 WIB dalam usia 76 tahun. Lahir di Palembang, 12 April 1950, lulusan Akademi Militer 1974 itu menorehkan perjalanan panjang sebagai perwira infanteri, Kepala Staf Angkatan Darat, hingga Menteri Pertahanan. Kepergiannya menandai berakhirnya perjalanan seorang jenderal yang selama puluhan tahun menjadi bagian penting dalam sejarah pertahanan Republik Indonesia.***











