Buibu Baca Buku Ajak Ibu-Ibu Bicara Krisis Iklim Lewat Buku dan Komunitas

Buibu Baca Buku Ajak Ibu-Ibu Bicara Krisis Iklim Lewat Buku dan Komunitas
Buibu Baca Buku Ajak Ibu-Ibu Bicara Krisis Iklim Lewat Buku dan Komunitas
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Isu perubahan iklim selama ini kerap dianggap jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, dampaknya paling cepat dirasakan di rumah tangga, mulai dari naiknya harga pangan, cuaca yang tidak menentu, hingga persoalan energi. Berangkat dari kondisi tersebut, komunitas Buibu Baca Buku (BBB) terus mendorong keterlibatan ibu-ibu dalam aksi iklim melalui pendekatan literasi keluarga.

Komitmen itu diwujudkan melalui program Climate Literacy for Mothers yang telah berjalan sejak 2024. Memasuki tahun ketiganya, BBB menggelar acara “Buibu Berdaya Bumi: Dari Literasi Jadi Aksi” di Galeri Emiria Soenassa, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (30/5/2026).

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Buibu Baca Buku, Puty Puar, mengatakan program tersebut lahir dari kegelisahan bahwa isu iklim masih dianggap rumit dan sulit dipahami masyarakat, khususnya para ibu.

“Padahal ibu-ibu itu sebenarnya yang paling duluan merasakan dampaknya. Misalnya ketika harga beras naik atau ketika ada persoalan energi di rumah. Tanpa disadari, itu juga berkaitan dengan krisis iklim,” ujar Puty saat doorstop dengan media.

Menurutnya, selama dua tahun terakhir program Climate Literacy for Mothers telah menjangkau hampir 9.000 penerima manfaat dan berkolaborasi dengan lebih dari 100 komunitas lokal serta Taman Baca Masyarakat di 16 provinsi, mulai dari Aceh hingga Papua Selatan.

Dalam pelaksanaannya, BBB menggandeng komunitas dan taman baca yang telah aktif bergerak di daerah masing-masing. Mereka diberikan buku bertema lingkungan, pelatihan membaca nyaring (read aloud), hingga dukungan dana aktivasi untuk menjalankan kegiatan literasi di wilayahnya.

“Kami bermitra dengan komunitas yang memang sudah bergerak. Mereka sudah punya anak-anak binaan dan inisiatif sendiri. Kami membantu dengan buku, pelatihan, dan dukungan agar jangkauan mereka bisa lebih luas,” katanya.

Puty menjelaskan, pelatihan yang diberikan tidak hanya soal teknik membacakan buku, tetapi juga cara menjelaskan isu lingkungan dan sampah dengan bahasa yang sederhana agar mudah dipahami anak-anak.

Menurut dia, pendekatan melalui buku anak dipilih karena dinilai lebih efektif untuk membuka percakapan mengenai krisis iklim di lingkungan keluarga.

“Harapannya anak dibacakan buku, tetapi ibunya juga ikut belajar. Jadi proses literasinya berjalan bersama. Anak belajar soal lingkungan, orang tuanya juga mendapatkan pemahaman yang sama,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Puty juga menyoroti tantangan besar dunia literasi saat ini, yakni penggunaan gawai yang semakin masif di lingkungan keluarga.

Menurutnya, rendahnya minat baca anak tidak bisa hanya dibebankan kepada anak-anak semata, melainkan juga berkaitan dengan kebiasaan orang tua di rumah.

“Anak sulit diajak membaca kalau di rumah orang tuanya juga terus bermain gadget. Anak membutuhkan role model. Jadi yang perlu berbenah bukan hanya anak, tetapi juga orang tuanya,” tegasnya.

Ia menilai budaya membaca perlu kembali diperkuat melalui interaksi langsung antara orang tua dan anak, termasuk melalui kebiasaan membaca buku fisik serta menulis tangan.

Bahkan, Puty mencontohkan sejumlah negara dengan sistem pendidikan maju mulai kembali mendorong aktivitas menulis tangan karena dinilai lebih efektif dalam membangun kemampuan literasi dasar anak.

Selain menghadirkan diskusi seputar literasi dan keluarga, acara “Buibu Berdaya Bumi” juga membahas berbagai isu lingkungan mulai dari pangan berkelanjutan, transisi energi, kota bebas polusi, hingga pendidikan karakter peduli lingkungan.

Sejumlah narasumber turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Direktur Iklim dan Transisi Energi Berkeadilan IESR Agus P. Tampubolon, Kepala Sekretariat Koalisi Sistem Pangan Lestari Gina Karina, Founder Bijak Kertas Muhammad Gibraltar Elmalik, praktisi homeschooling Delih Ratnasari, Founder Reading Bugs Roosie Setiawan, hingga Head of Academic Sekolah Murid Merdeka Ranggi Kanya.

Pada kesempatan yang sama, Buibu Baca Buku juga meluncurkan dua buku terbaru dalam seri Keluarga Panik, yakni Dari Mana Listrik Berasal? dan Makan Apa Hari Ini?. Kedua buku tersebut dirancang untuk membantu anak-anak memahami isu energi dan pangan melalui cerita yang ringan, ilustrasi menarik, serta aktivitas interaktif bagi keluarga.

Puty berharap pemerintah dapat lebih banyak merangkul komunitas literasi dan taman baca yang selama ini telah bergerak secara mandiri di berbagai daerah.

“Di seluruh Indonesia ada banyak taman baca dan komunitas yang luar biasa. Mereka tetap bergerak meski tanpa dukungan besar. Kalau ada sinergi yang lebih kuat dengan pemerintah, dampaknya akan jauh lebih besar untuk masyarakat,” pungkasnya.

Melalui gerakan literasi iklim yang melibatkan keluarga dan komunitas, BBB berharap semakin banyak masyarakat yang memahami bahwa menjaga bumi dapat dimulai dari langkah sederhana di rumah, melalui buku, percakapan, dan kebiasaan sehari-hari.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.