Medan, Radarjakarta.id – Gelap gulita masih menyelimuti sebagian besar wilayah Kota Medan dan sekitarnya hingga hari Sabtu siang, 23 Mei 2026. Padahal, pemadaman listrik besar-besaran ini sudah berlangsung sejak usai Salat Maghrib, Jumat malam (22/5/2026). Meski sempat ada pemulihan di sejumlah kawasan pada pukul 22.17 WIB malam kemarin, namun fakta di lapangan menunjukkan hingga kini baru sekitar 40 persen wilayah saja yang mendapatkan pasokan listrik kembali normal.
Berdasarkan pantauan awak Media dampak pemadaman ini luar biasa besar. Tidak hanya Kota Medan, kegelapan merambat serentak melumpuhkan empat provinsi di wilayah Sumatera Bagian Utara, meliputi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, hingga Riau. Listrik mendadak mati total sekitar pukul 18.40 WIB, mengubah suasana malam menjadi gelap pekat, di mana penerangan hanya mengandalkan senter ponsel, lampu kendaraan, dan sedikit genset milik warga.
Jalanan menjadi sepi, lalu lintas kacau karena lampu pengatur lalu lintas mati, hingga aktivitas ekonomi lumpuh total. Hingga Sabtu pagi, warga masih kesulitan memenuhi kebutuhan dasar. Warung sepi yang buka, mesin ATM mati total sehingga terjadi krisis uang tunai, dan warga terpaksa membludak ke kafe-kafe yang kebetulan sudah nyala hanya sekadar untuk mengisi daya ponsel dan mencari sinyal internet.
Ketidakpuasan Masyarakat Menggelegar
Di tengah situasi sulit ini, kemarahan dan kekecewaan masyarakat memuncak ditujukan kepada pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). Warga mempertanyakan kinerja dan keandalan sistem kelistrikan, apalagi mengingat Sumatera Utara dikenal memiliki banyak pembangkit listrik, namun nyatanya sering mengalami gangguan massal.
“Sangat kecewa kami pak. Hingga siang ini listrik baru nyala di sebagian kecil saja, baru sekitar 40 persen katanya. Kalau Sumatera Utara ini punya banyak sekali pembangkit listrik, lalu apaguna pembangkit-pembangkit itu ada kalau masyarakat masih sering mengalami Blackout besar seperti ini?,” ungkap salah satu warga di Kompleks Cemara Hijau, Medan, yang rumahnya masih gelap total sejak Jumat malam.
Pertanyaan senada juga disampaikan banyak pelaku usaha. Menurut mereka, kerugian akibat pemadaman ini sangat besar, namun penyelesaiannya terasa lambat dan berulang kali terjadi.
Penyebab Gangguan Versi PLN
Melalui keterangan resminya, PLN menjelaskan bahwa gangguan terdeteksi pukul 18.44 WIB, di mana sistem kelistrikan Sumatera Bagian Utara dan Sumatera Bagian Tengah terpisah atau tidak tersinkronisasi. Penyebab utamanya adalah gangguan teknis pada jaringan transmisi tegangan tinggi jalur Rumai – Muaro Bungo berkapasitas 275 kV, yang merupakan jalur urat nadi penyaluran tenaga listrik antarpulau. Kerusakan ini memicu efek domino yang mematikan gardu induk satu demi satu.
Tim teknis disebutkan masih bekerja keras memulihkan sistem, namun hingga Sabtu siang progres pemulihan baru mencapai sekitar 40 persen. PLN memperkirakan butuh waktu 6 hingga 8 jam sejak awal gangguan, namun target itu tampak meleset mengingat banyak titik yang masih gelap.
Dampak Luar Biasa
Akibat insiden ini, rumah sakit terpaksa mengandalkan genset, menara BTS mati sehingga internet sulit diakses, pasar dan perkantoran tutup, dan ribuan pelaku usaha mengalami kerugian materiil yang tidak sedikit.
Masyarakat kini menagih janji pelayanan. Warga berharap PLN tidak hanya meminta maaf, tetapi memberikan solusi nyata agar pertanyaan besar: “Buat apa banyak pembangkit kalau sering mati?” segera terjawab dengan kualitas aliran listrik yang stabil dan andal.











