JAKARTA, Radarjakarta.id – Dunia perfilman Indonesia kembali diguncang drama emosional yang menyita perhatian publik. Aktris papan atas Acha Septriasa membongkar pengalaman paling berat sepanjang karier aktingnya saat membintangi film terbaru bertema kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), Suamiku Lukaku. Totalitas akting yang ditampilkan bahkan membuat kondisi fisiknya ikut terdampak serius.
Dalam pengakuannya yang mengejutkan, Acha mengaku pembuluh darah di wajahnya pecah setelah menjalani adegan emosional dan fisik yang berulang kali dilakukan bersama Baim Wong. Syuting yang berlangsung hingga larut malam setelah seharian berada di bawah panas matahari disebut menjadi salah satu faktor yang membuat tubuhnya nyaris tumbang.
“Kalau saya akting, saya harus kasih semuanya. Saat adegan berantem itu, energinya benar-benar dikuras habis,” ujar Acha.
Adegan penuh ledakan emosi tersebut ternyata tidak hanya dilakukan sekali. Beberapa pengambilan gambar bahkan harus diulang hingga puluhan kali demi mendapatkan emosi yang paling kuat dan realistis di depan kamera.
“Kita sampai ulang sekitar 20 kali. Besoknya satu muka saya merah semua. Awalnya saya kira alergi make-up, ternyata pembuluh darah di wajah pecah,” ungkapnya.
Pengakuan itu langsung memicu reaksi besar di media sosial. Banyak warganet memuji dedikasi Acha Septriasa yang dianggap tampil habis-habisan demi menyampaikan pesan penting tentang penderitaan korban KDRT yang sering tersembunyi di balik rumah tangga yang terlihat harmonis.
Tak kalah berat, Baim Wong juga mengaku mengalami tekanan mental saat memainkan karakter Irfan, sosok suami manipulatif yang melakukan kekerasan terhadap istrinya, Amina, yang diperankan Acha.
Baim menjelaskan karakter yang dimainkan memiliki kecenderungan Narcissistic Personality Disorder (NPD), kondisi psikologis yang membuat seseorang bisa melakukan kekerasan sambil tetap merasa dirinya mencintai pasangan.
“Setiap adegan rasanya enggak nyaman. Saya harus jadi karakter itu, tapi di sisi lain ikut merasakan emosi Acha juga,” kata Baim.
Menariknya, Baim mengaku kerap melakukan improvisasi tanpa memberi tahu Acha terlebih dahulu demi mendapatkan reaksi spontan yang lebih nyata di layar. Salah satu adegan paling membekas baginya adalah saat ia tiba-tiba memegang wajah Acha secara agresif sesuai kebutuhan adegan.
“Pas cut, Acha langsung teriak bilang seumur hidup belum pernah diperlakukan seperti itu,” ujar Baim.
Meski dipenuhi tekanan emosional, keduanya justru dinilai sukses membangun chemistry kuat di layar lebar. Kedekatan Acha dan Baim selama promosi film bahkan membuat publik ramai menjodoh-jodohkan mereka.
Spekulasi itu makin liar karena keduanya sama-sama berstatus lajang usai rumah tangga masing-masing berakhir pada tahun lalu. Banyak penonton menilai hubungan emosional mereka terlihat begitu natural, bahkan disebut mirip pasangan ikonik film Hollywood.
Acha sendiri menanggapi santai rumor tersebut. Ia menyebut hubungan mereka hanya sebatas sahabat lama yang kembali dipertemukan lewat proyek film besar.
“Ini kayak Mr. & Mrs. Smith versi Indonesia, tapi dengan cerita yang jauh lebih serius soal KDRT,” kata Acha sambil tertawa.
Menurut Acha, chemistry kuat dengan Baim muncul secara alami karena keduanya sudah lama saling mengenal. Obrolan santai hingga makan bersama sebelum syuting menjadi cara mereka membangun kedekatan emosional untuk mendalami karakter.
Film Suamiku Lukaku sendiri mengangkat realita pahit kekerasan dalam rumah tangga yang sering tertutup citra keluarga harmonis. Tidak hanya menampilkan kekerasan fisik, film ini juga menyoroti luka batin akibat tekanan verbal dan manipulasi emosional.
Dalam cerita, Amina berusaha keluar dari lingkaran kekerasan dengan bantuan Zahra, seorang pengacara pemberani yang diperankan Raline Shah. Perjuangan itu digambarkan penuh tekanan, ketakutan, hingga pergulatan batin yang dalam.
Acha berharap film tersebut bukan sekadar tontonan, melainkan bisa menjadi suara bagi banyak perempuan yang selama ini memilih diam.
“Semoga penonton bisa merasakan apa yang dirasakan Aminah. Film ini bukan hanya untuk perempuan, tapi juga pengingat bagi laki-laki agar lebih melindungi, bukan menyakiti,” tutup Acha.
Film produksi SinemArt tersebut dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai 27 Mei 2026 dan diprediksi menjadi salah satu film drama paling menyita perhatian tahun ini.***











