TUBAN|Radarjakarta.id – Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Kabupaten Tuban, Jawa Timur, pada Sabtu (16/05/2026), mendadak menjadi sorotan luas di media sosial. Video kedatangan Prabowo saat menghadiri panen raya jagung serentak kuartal II, groundbreaking 10 Gudang Ketahanan Pangan Polri, serta peluncuran 166 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polri Tahun 2026 ramai beredar di TikTok, Instagram, YouTube hingga X.
Di tengah euforia penyambutan warga, perhatian publik justru tertuju pada suara para petani yang secara terbuka menyampaikan kondisi nyata pertanian di lapangan. Mulai dari persoalan pupuk, ancaman gagal panen akibat kekeringan, hingga harapan besar terhadap program swasembada pangan pemerintahan Prabowo.
Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, Tasmuri, menyebut kedatangan Presiden menjadi momentum langka bagi masyarakat tani di wilayahnya. Ia mengaku baru kali ini daerah pertanian mereka didatangi langsung oleh kepala negara.
“Petani di sini sangat senang. Selama ini belum pernah ada Presiden datang langsung melihat kondisi kami,” ujar Tasmuri di hadapan rombongan pejabat dan petani.
Dalam sejumlah unggahan media sosial yang viral, momen kedekatan Prabowo dengan petani menjadi bahan perbincangan publik. Sebagian netizen menilai langkah turun langsung ke sentra pertanian sebagai bentuk pendekatan nyata terhadap isu pangan nasional. Namun sebagian lainnya mengingatkan bahwa tantangan terbesar bukan hanya seremoni panen raya, melainkan realisasi bantuan di lapangan.
Tasmuri sendiri mengakui adanya perubahan yang mulai dirasakan petani, terutama terkait distribusi pupuk yang dinilai lebih mudah dibanding sebelumnya. Menurutnya, petani kini tidak lagi menghadapi antrean panjang dan lonjakan harga pupuk seperti beberapa tahun terakhir.
Selain persoalan pupuk, harga jagung yang naik hingga menembus sekitar Rp6.200 per kilogram juga menjadi kabar baik bagi petani Tuban. Kenaikan harga tersebut dianggap membantu menutup tingginya biaya produksi pertanian yang terus meningkat.
Meski demikian, persoalan irigasi masih menjadi ancaman serius. Banyak petani di Tuban masih bergantung penuh pada curah hujan. Saat musim kemarau datang, panen kedua sering gagal dan menyebabkan kerugian besar.
“Kami berharap ada bantuan sumur bor atau irigasi permanen. Kalau tidak ada hujan, petani bisa rugi besar karena jagung tidak tumbuh maksimal,” kata Tasmuri.
Keluhan serupa disampaikan Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Lestari, Sudarlim. Ia berharap petani hutan mendapat perhatian yang sama dengan petani di luar kawasan hutan. Menurutnya, mayoritas petani di kawasan hutan Tuban menggantungkan hidup dari tanaman jagung.
Sudarlim juga menyoroti pentingnya fasilitas pascapanen seperti mesin pengering jagung agar hasil panen petani bisa memenuhi standar Bulog dan dijual dengan harga lebih tinggi. Menurutnya, tanpa dukungan fasilitas modern, petani sulit memperoleh keuntungan maksimal meski produksi meningkat.
Di media sosial, pernyataan para petani itu memicu diskusi luas. Banyak warganet mendukung peningkatan infrastruktur pertanian ketimbang sekadar pembangunan simbolis. Sementara sebagian lainnya menilai program ketahanan pangan harus dibarengi pengawasan distribusi pupuk, stabilitas harga, dan jaminan pembelian hasil panen petani.
Program swasembada pangan yang menjadi salah satu agenda utama pemerintahan Prabowo kini mulai diuji di lapangan. Kehadiran Presiden di tengah petani Tuban dinilai menjadi sinyal bahwa sektor pertanian akan mendapat perhatian lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.
Namun bagi petani, ukuran keberhasilan bukan hanya kunjungan pejabat atau viral di media sosial. Mereka menunggu solusi nyata: irigasi yang berfungsi, pupuk yang mudah diperoleh, harga panen yang stabil, dan fasilitas pascapanen yang benar-benar bisa meningkatkan kesejahteraan.|Harno*











