JAKARTA, Radarjakarta.id – Ketegangan di Timur Tengah melonjak tajam setelah rentetan rudal balistik Iran menghantam kota Dimona dan Arad, Israel, Sabtu malam (21/03). Serangan yang disebut sebagai balasan atas insiden di fasilitas nuklir Natanz itu memicu korban massal dan kerusakan luas, sekaligus mengguncang kepercayaan publik terhadap sistem pertahanan udara Israel.
Data dari Kementerian Kesehatan Israel mencatat sedikitnya 180 orang terluka 116 di Arad dan 64 di Dimona. Sejumlah korban, termasuk anak-anak, mengalami luka serius akibat runtuhan bangunan dan pecahan kaca. Saksi mata menggambarkan dentuman keras diikuti kepanikan massal, saat rudal menghantam langsung kawasan permukiman dan meninggalkan kawah besar.
Tim medis di lapangan menghadapi situasi dramatis. Seorang paramedis mengungkapkan banyak anak mengalami cedera di kepala dan dada setelah tertimpa puing. Evakuasi berlangsung menegangkan, termasuk seorang anak perempuan yang menolak dibawa ke ambulans sebelum orang tuanya ditemukan dari reruntuhan apartemen yang hancur.
Kerusakan parah juga dilaporkan di sekitar Dimona, kota yang berada dekat pusat riset nuklir Israel di gurun Negev. Meski demikian, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) memastikan belum ada indikasi kerusakan maupun kebocoran radiasi dari fasilitas tersebut yang selama ini diyakini sebagai bagian dari program nuklir Israel, meski tidak pernah diakui secara resmi.
Di sisi lain, militer Israel mengungkapkan Iran telah meluncurkan sekitar 400 misil sejak eskalasi konflik akhir Februari. Meski 92% berhasil dicegat, beberapa rudal berhasil lolos dan menghantam target vital. Kegagalan intersepsi di Dimona disebut sebagai sinyal berbahaya bahwa konflik telah memasuki fase baru yang lebih kompleks dan mematikan.
Serangan lanjutan juga terjadi di Tel Aviv pada Minggu (22/03), menewaskan satu orang dan melukai tujuh lainnya akibat bom tandan. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bersama Presiden Isaac Herzog turun langsung ke lokasi terdampak, sementara penyelidikan besar-besaran dilakukan untuk mengungkap celah dalam sistem pertahanan Israel yang selama ini dianggap nyaris tak tertembus.***










