JAKARTA, Radarjakarta.id – Teuku Muhammad Hasan merupakan salah satu tokoh nasional penting dari Aceh yang memiliki peran besar dalam sejarah awal berdirinya Republik Indonesia. Ia dikenal sebagai Gubernur pertama wilayah Sumatera setelah Indonesia merdeka serta tokoh perjuangan yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Indonesia.
Awal Kehidupan
Teuku Muhammad Hasan lahir pada 4 April 1906 di Pidie, Aceh. Ia berasal dari keluarga bangsawan Aceh. Ayahnya, Teuku Bintara Pineung Ibrahim, merupakan seorang uleebalang atau pemimpin wilayah di daerah Pineung, Pidie.
Pada masa kecilnya, Hasan sebenarnya bernama Teuku Sarong. Namun karena sering sakit, keluarganya kemudian mengganti namanya menjadi Teuku Muhammad Hasan.
Sejak kecil ia dikenal sebagai anak yang cerdas dan tekun belajar. Latar belakang keluarganya memungkinkan Hasan memperoleh pendidikan yang relatif baik pada masa kolonial Belanda.
Pendidikan hingga ke Belanda
Perjalanan pendidikan Teuku Muhammad Hasan sangat panjang dan menunjukkan kualitas intelektualnya.
Ia menempuh pendidikan di beberapa sekolah bergengsi pada masa itu, antara lain:
Volksschool Lampoeh Saka (Aceh)
Europeesche Lagere School (ELS)
Koningen Wilhelmina School di Batavia
Sekolah Tinggi Hukum di Batavia
Setelah itu ia melanjutkan studi hukum di Leiden University di Belanda.
Selama di Belanda, ia aktif dalam organisasi pergerakan mahasiswa Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi yang berperan besar dalam menyuarakan kemerdekaan Indonesia di dunia internasional.
Peran Penting Menjelang Kemerdekaan
Menjelang kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Teuku Muhammad Hasan dipilih menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang bertugas menyiapkan pemerintahan Indonesia setelah proklamasi.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, pemerintah Republik Indonesia menunjuk Teuku Muhammad Hasan sebagai Gubernur Sumatera pertama.
Pada masa itu wilayah Sumatera masih menjadi satu provinsi besar yang meliputi seluruh pulau Sumatera.
Gubernur Pertama Sumatera
Sebagai gubernur pertama, Teuku Muhammad Hasan memiliki tugas sangat berat. Ia harus:
Membentuk struktur pemerintahan di Sumatera
Menggalang dukungan rakyat terhadap Republik Indonesia
Menghadapi ancaman kembalinya kekuatan kolonial Belanda
Pada 4 Oktober 1945, ia memimpin rapat besar rakyat di Medan yang menegaskan dukungan masyarakat Sumatera terhadap kemerdekaan Indonesia.
Langkah tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia di wilayah Sumatera.
Karier Politik dan Pemerintahan
Selain menjadi gubernur, Teuku Muhammad Hasan juga memegang berbagai jabatan penting lainnya, antara lain:
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Darurat Republik Indonesia
Anggota Senat Republik Indonesia Serikat
Anggota DPR Sementara
Tokoh pendidikan dan penggerak pembangunan Aceh
Ia juga dikenal aktif dalam berbagai organisasi sosial dan pendidikan.
Peran Besar di Dunia Pendidikan
Setelah masa perjuangan, Teuku Muhammad Hasan tetap aktif dalam pembangunan bangsa, khususnya di bidang pendidikan.
Ia menjadi salah satu tokoh yang mendorong berdirinya berbagai lembaga pendidikan di Aceh, termasuk universitas yang kemudian berkembang menjadi pusat pendidikan di daerah tersebut.
Dedikasinya terhadap pendidikan membuatnya dihormati sebagai tokoh intelektual Aceh.
Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Atas jasa besarnya dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan negara, pemerintah Indonesia melalui keputusan presiden pada tahun 2006 menetapkan Teuku Muhammad Hasan sebagai Pahlawan Nasional.
Penghargaan ini menjadi pengakuan atas kontribusinya dalam sejarah bangsa Indonesia.
Wafat
Teuku Muhammad Hasan wafat pada 21 September 1997 di Jakarta dalam usia 91 tahun.
Namanya kemudian diabadikan menjadi berbagai nama jalan, lembaga pendidikan, serta bangunan penting di Aceh dan Indonesia.
Teuku Muhammad Hasan adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia yang berasal dari Aceh. Ia tidak hanya berperan sebagai Gubernur pertama Sumatera, tetapi juga sebagai intelektual, pejuang kemerdekaan, serta tokoh pendidikan.
Warisan pemikiran dan perjuangannya masih dikenang hingga kini sebagai bagian dari perjalanan panjang bangsa Indonesia menuju kemerdekaan dan pembangunan.***










