JAKARTA, Radarjakarta.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai terobosan pemerintah justru berubah jadi bencana. Data mengejutkan dibongkar langsung oleh Kepala Staf Presiden (KSP) M Qodari: lebih dari 5.000 siswa di Indonesia dilaporkan keracunan setelah menyantap makanan dari program ini.
Qodari tak main-main. Ia membeberkan data resmi dari Badan Gizi Nasional (BGN), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Angkanya konsisten: ribuan anak jatuh sakit dengan puncak kasus terjadi di Jawa Barat, khususnya sepanjang Agustus 2025.
“Data BGN mencatat 5.080 korban, Kemenkes 5.207 korban, sedangkan BPOM 5.320 korban. Semua datanya sinkron, jumlahnya sudah di atas 5.000 siswa,” ujar Qodari di Istana Negara, Senin (22/9/2025).
Ledakan kasus ini langsung memantik amarah publik. Bagaimana mungkin program yang seharusnya menyehatkan generasi muda justru memicu keracunan massal?
Fakta Mengerikan: Penyebab Keracunan MBG
Qodari mengungkap empat faktor utama yang membuat program MBG jadi bom waktu:
- Higienitas makanan yang buruk
- Suhu makanan dan cara pengolahan tidak sesuai standar
- Kontaminasi silang dari petugas
- Sebagian kasus dipicu alergi siswa penerima
Lebih parah lagi, hanya segelintir penyedia makanan yang memegang sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS) dari Kemenkes. Dari 8.583 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di seluruh Indonesia, baru 34 SPPG yang lolos sertifikasi. Artinya, lebih dari 8.500 SPPG berjalan tanpa jaminan standar keamanan pangan.
DPR Ikut Panas: Puan Tuntut Evaluasi Total
Kasus ini membuat Ketua DPR RI Puan Maharani geram. Ia mendesak pemerintah segera turun tangan agar anak-anak tidak terus jadi korban eksperimen program MBG.
“Program ini tidak boleh merugikan anak-anak. Evaluasi total harus dilakukan. Jangan sampai kasus keracunan massal jadi hal biasa,” tegas Puan di Kompleks Parlemen, Senin (22/9/2025).
Puan mengingatkan, skala nasional program MBG memang ambisius, tapi tanpa pengawasan ketat justru bisa menjadi malapetaka.
Kritik Publik: Dari Harapan Jadi Malapetaka
Program MBG awalnya dielu-elukan sebagai penyelamat gizi anak bangsa, namun fakta lapangan justru memperlihatkan lemahnya pengawasan. Publik kini menuntut jawaban: siapa yang bertanggung jawab atas ribuan anak yang keracunan?
“Pemerintah tidak boleh tuli dan buta. Fakta keracunan sudah ada di depan mata. Kalau tidak segera diperbaiki, program MBG hanya akan menambah derita anak-anak,” sindir Qodari.
Kesimpulan
Kasus keracunan MBG kini menjelma menjadi skandal nasional. Ribuan siswa jadi korban, Jawa Barat jadi daerah dengan kasus terbanyak, dan DPR sudah angkat suara. Pertanyaannya, apakah pemerintah berani mengambil langkah tegas, atau justru menutup mata atas tragedi yang bisa menggerogoti masa depan generasi muda ini?***










