39 Remaja Sulit Diatur Dibina TNI, Orang Tua Menangis

banner 468x60

RADAR JAKARTA|Purwakarta — Suasana haru menyelimuti halaman Markas Batalyon Armed 9, Resimen Artileri Medan 1 Sthira Yudha, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sebanyak 39 siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang dikenal memiliki perilaku menyimpang resmi memulai program pendidikan karakter berbasis militer, sebuah inisiatif Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Tangisan pecah di antara pelukan perpisahan. Para orang tua, penuh harap, melepas anak-anak mereka untuk menjalani program pembinaan selama dua pekan. Salah satunya adalah Elly, yang tak kuasa menahan air mata saat memeluk anaknya.

“Anak saya sering bolos dan susah dinasehatin. Saya titipkan ke program ini agar dia bisa berubah dan punya masa depan,” ungkap Elly dengan suara bergetar.

Jawaban Cepat atas Kenakalan Remaja

Program ini menjadi respons cepat Pemerintah Provinsi Jawa Barat terhadap maraknya kenakalan remaja—mulai dari tawuran, geng motor, hingga penyalahgunaan narkoba. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menegaskan bahwa langkah ini diambil tanpa menunggu payung hukum formal.

“Kalau masa depan anak-anak dipertaruhkan, kami tidak bisa menunggu. TNI dan Polri adalah mitra terbaik dalam membentuk karakter mereka,” kata Binzein, yang akrab disapa Om Zein.

Dari 40 siswa yang diundang mengikuti program, satu siswa dilaporkan tidak hadir saat pelaksanaan.

Sekolah Tetap Jalan, Hanya Pindah Lokasi

Program ini menekankan bahwa para siswa tidak berhenti sekolah, hanya berpindah tempat belajar. Aula The Gunner di markas Resimen Armed 1 Kostrad menjadi pusat kegiatan—tempat mereka belajar, makan, tidur, dan dibentuk secara disiplin.

Kolonel Arm Roni Junaidi, Komandan Resimen Armed 1 Kostrad, menjelaskan bahwa setiap peserta akan menjalani pemeriksaan kesehatan dan psikologis sebelum menjalani rutinitas harian. “Mereka akan dibiasakan salat Subuh, olahraga, kebersihan, makan teratur, serta sesi konseling dan motivasi,” jelasnya.

Kurikulum Kolaboratif: Karakter, Bela Negara, dan Spiritualitas

Kurikulum dirancang secara kolaboratif oleh TNI, Polri, Pemda, Dinas Sosial, serta para psikolog anak. Materinya mencakup pendidikan karakter, bela negara, psikologi, dan nilai spiritualitas, dengan tujuan membentuk generasi muda yang disiplin, berakhlak mulia, dan mencintai tanah air.

Para siswa akan menjalani program intensif selama 14 hari sebelum kembali ke sekolah asal dengan pembinaan lanjutan.

Diluncurkan pada Hardiknas 2025

Menariknya, program ini resmi dimulai pada Jumat (2/5/2025), bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Gubernur Dedi Mulyadi menegaskan bahwa ini adalah langkah konkret membangun generasi muda dengan nilai tanggung jawab dan kedisiplinan.

“Selama enam bulan, pembinaan akan berlanjut di barak. Ini bukan sekolah formal, tapi sekolah kehidupan. Kami akan turun langsung ke rumah siswa jika perlu,” ujar Dedi.

Program ini akan diperluas ke Kota Bandung dan daerah lain di Jawa Barat dalam waktu dekat. | Hans*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.