JAKARTA, Radarjakarta.id – Dunia media sosial kembali diguncang tren unik yang mendadak viral. Sebuah lagu berjudul “MBG Mas Bahlil Ganteng” atau yang lebih dikenal dengan sebutan “My Little Bolu Ketan” kini menjadi bahan perbincangan hangat di Tiktok atau medsos setelah potongan audio dan lirik absurdnya menyebar luas dan digunakan jutaan pengguna.
Fenomena ini bermula dari unggahan kreator konten yang dikenal dengan akun @vokaliz_netizen, yang mengolah komentar-komentar warganet menjadi karya musik berbasis humor digital. Lagu tersebut kemudian cepat menyebar karena dinilai “nyeleneh, catchy, dan sulit keluar dari kepala”.
Potongan lirik seperti “MBG Mas Bahlil Ganteng”, “Buah apa yang paling manis? BUAHLIL”, hingga “My little bolu ketan” menjadi bahan meme, parodi, hingga konten reaksi yang membanjiri FYP berbagai platform.
Sejumlah video bahkan viral setelah diunggah ulang oleh kreator besar, termasuk konten reaksi yang menampilkan ekspresi kaget sekaligus tertawa melihat lirik yang dianggap absurd namun menghibur. Dalam hitungan hari, audio tersebut digunakan sebagai latar ribuan video pendek di medsos.
Di medsos, tren ini juga berkembang menjadi format remix, dance challenge, hingga parodi komedi. Sementara warganet ramai memperdebatkan “siapa pencipta asli” hingga makna di balik istilah “MBG” yang merupakan singkatan dari Mas Bahlil Ganteng.
Meski demikian, sejumlah pengamat media sosial menilai fenomena ini merupakan bagian dari budaya digital baru, di mana komentar netizen, humor lokal, dan teknologi AI berkolaborasi membentuk konten hiburan yang cepat viral.
“Ini bukan sekadar lagu, tapi representasi budaya meme yang berkembang sangat cepat di Indonesia,” ujar salah satu analis media digital.
Di tengah viralnya lagu tersebut, sebagian warganet juga menyoroti dugaan bahwa karya ini dibuat dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI), yang kini semakin sering digunakan dalam produksi konten musik kreatif di media sosial.
Hingga kini, “MBG Mas Bahlil Ganteng” masih bertahan di puncak tren FYP dan terus melahirkan versi remix, cover gitar, hingga parodi baru yang dibuat pengguna internet setiap harinya.
Fenomena ini menegaskan satu hal: di era media sosial, hal paling sederhana bahkan komentar receh bisa berubah menjadi gelombang viral nasional dalam hitungan jam.***











