Riset Didorong Menjawab Masalah Nyata
Dalam salah satu sesi keynote, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Dr. Fauzan Adziman, menekankan pentingnya penelitian yang berangkat dari persoalan nyata.
Menurut Fauzan, riset perlu memiliki persoalan yang jelas, relevan dengan kebutuhan daerah, sekaligus memiliki peluang untuk diterapkan di lapangan.
Ia mendorong perguruan tinggi memperkuat kerja sama dengan pemerintah dan industri agar hasil penelitian tidak berhenti pada kajian akademis.
“Kita perlu bergerak dari market fixing menuju market shaping, dari sekadar merespons masalah ketika terjadi menjadi membangun ekosistem yang memungkinkan kita mengantisipasi dan menyelesaikannya sejak awal,” ujar Fauzan.
International Symposium 2026 diikuti lebih dari 200 peserta dari 60 institusi dan organisasi, dengan 28 pembicara dari sekitar 25 institusi dan organisasi di enam negara.
Rangkaian kegiatan berlangsung selama tiga hari. Setelah sesi diskusi dan breakout session, kegiatan akan dilanjutkan dengan Leadership Response Forum pada 24 September 2026.
Hasil pembahasan simposium akan dirangkum dalam Policy Recommendation dan Symposium Completion Report.
Kedua dokumen tersebut akan menjadi masukan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam merumuskan pembangunan Jakarta yang tangguh, inklusif, berkelanjutan, dan siap menghadapi tantangan menuju Jakarta 500 serta target Jakarta sebagai kota global pada 2045.











