PARIS, Radarjakarta.id — Presiden Prancis Emmanuel Macron mengguncang panggung internasional dengan menyatakan niat negaranya untuk secara resmi mengakui Negara Palestina dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2025. Langkah berani ini segera disambut pujian dari negara-negara Arab dan komunitas internasional, namun juga memicu kecaman tajam dari Amerika Serikat dan Israel.
Pengumuman ini disampaikan Macron pada Kamis (24/7), melalui pernyataan di media sosial X dan Instagram. “Sesuai dengan komitmen historis Prancis terhadap perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah, saya telah memutuskan untuk mengakui Negara Palestina. Saya akan menyampaikan pernyataan resmi pada Sidang Majelis Umum PBB bulan September nanti,” tulis Macron.
Langkah Prancis menjadikannya sebagai kekuatan besar Eropa pertama yang mengambil posisi eksplisit mengakui Palestina sebagai negara, menyusul 142 negara lain di dunia yang telah melakukan hal serupa.
Reaksi Internasional: Pujian dari Arab, Kecaman dari Sekutu
Kementerian Luar Negeri Arab Saudi menyebut keputusan Macron sebagai “sebuah langkah bersejarah yang mencerminkan konsensus global tentang hak rakyat Palestina untuk merdeka dan mendirikan negara sendiri di perbatasan 1967, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kota.”
Jordania juga menyambut positif langkah tersebut. “Ini adalah langkah ke arah solusi dua negara dan penghentian pendudukan,” kata juru bicara Kemlu Jordania, Sufian Qudah.
Namun, Amerika Serikat menyatakan penolakannya secara terbuka. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut pengakuan Palestina oleh Prancis sebagai “tindakan sembrono yang hanya menguntungkan Hamas dan melukai para korban serangan 7 Oktober 2023.” Israel pun tak kalah keras, dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut keputusan itu sebagai “imbalan bagi terorisme.”
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, bahkan memperingatkan bahwa “negara Palestina akan menjadi negara Hamas.”
Mengapa Sekarang? Krisis Gaza dan Tekanan Politik Dalam Negeri
Keputusan mengejutkan ini datang di tengah krisis kemanusiaan berkepanjangan di Gaza. Sejak Oktober 2023, lebih dari 60 ribu warga Palestina dilaporkan tewas akibat agresi Israel. Mantan Dubes Prancis untuk Israel, Gérard Araud, menilai rasa urgensi atas penderitaan rakyat Gaza menjadi pendorong utama Macron bertindak.
Selain alasan kemanusiaan, para analis melihat adanya dinamika politik domestik. Prancis adalah rumah bagi komunitas Muslim terbesar di Eropa dan komunitas Yahudi terbesar di luar Israel dan AS. Tekanan sosial dan politik dari dalam negeri turut mendorong perubahan sikap ini.
Strategi Diplomatik: Macron Ciptakan Momentum Global Baru
Macron disebut ingin menciptakan “momentum diplomatik” jelang Sidang Umum PBB. Ia berencana menggalang dukungan dari negara-negara lain, termasuk Inggris dan Kanada, untuk mendukung pengakuan bersama terhadap Palestina.
“Idenya adalah menggunakan waktu sebulan lebih ini untuk membangun koalisi pengakuan internasional,” ujar Amélie Ferey dari Institut Hubungan Internasional Prancis.
Diplomasi Pasca-Perang: Rencana Paris-Riyadh Singkirkan Hamas
Di balik layar, Prancis dan Arab Saudi tengah menyusun peta jalan pasca-konflik Gaza. Rencana ini mencakup:
• Isolasi dan pelucutan senjata Hamas
• Pemilu Palestina tahun 2026
• Pemerintahan teknokrat
• Kehadiran pasukan penjaga perdamaian PBB, melibatkan Mesir
• Membangun dukungan kawasan termasuk dari Qatar
Namun, para analis skeptis terhadap keberhasilan inisiatif ini, mengingat pemerintahan Israel secara terang-terangan menolak ide negara Palestina dan terus memperluas permukiman ilegal di Tepi Barat.
Tantangan ke Depan: Normalisasi Mandek, Netanyahu Dituduh Pertahankan Perang Demi Kuasa
Normalisasi hubungan Arab Saudi–Israel, yang sebelumnya dijadikan syarat bersama untuk pengakuan Palestina, kini dipandang jalan buntu. Pengamat menilai Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tak menunjukkan itikad untuk mengakhiri perang, demi menyelamatkan posisinya secara politik.
“Selama Netanyahu masih berkuasa, normalisasi dengan Saudi dan solusi dua negara akan sulit terwujud,” ujar David Khalfa dari Jean Jaurès Foundation.
Prancis Tantang Dunia, Sejarah Sedang Ditulis Ulang
Dengan mengambil langkah berani di tengah krisis berkepanjangan, Macron tampaknya ingin memposisikan Prancis sebagai aktor utama dalam penciptaan tatanan baru Timur Tengah. Apakah dunia akan mengikuti? Sidang Umum PBB bulan September mendatang bisa menjadi momen sejarah yang menentukan masa depan Palestina dan geopolitik dunia.***











