PEKANBARU, Radarjakarta.id — Polda Riau kembali mencatat prestasi dalam pelaksanaan program prioritas Polri. Di tengah tantangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih menjadi ancaman serius di Bumi Lancang Kuning, Polda Riau disebut berhasil meraih Juara Umum Program Ketahanan Pangan Polri 2026 Klaster 3.
Capaian tersebut menjadi sorotan karena program ketahanan pangan tidak hanya menuntut kemampuan meningkatkan produksi pertanian, tetapi juga konsistensi membangun kolaborasi bersama pemerintah daerah, TNI, kelompok tani, dunia usaha hingga masyarakat. Polda Riau selama ini memang aktif mengembangkan program pertanian, khususnya komoditas jagung, sebagai bagian dari dukungan terhadap target swasembada pangan nasional.
Data Polda Riau menunjukkan, kelompok tani binaan jajaran Polda Riau pada 2025 telah menanam jagung pipil di lahan seluas 1.690,37 hektare dari potensi 7.355,29 hektare. Untuk 2026, potensi lahan terus dikembangkan, termasuk melalui pola tumpang sari di perkebunan sawit dengan potensi mencapai 2.000 hektare. Produksi jagung binaan juga mengalami peningkatan signifikan.
Komitmen tersebut terlihat dalam sejumlah kegiatan panen raya. Pada panen raya jagung di Pekanbaru, misalnya, Polda Riau dan jajaran melaksanakan panen di lahan seluas 58,65 hektare dengan estimasi hasil mencapai 117,30 ton jagung. Hasil panen kemudian turut disalurkan melalui Perum Bulog Riau-Kepri sebagai bagian dari penguatan cadangan pangan.
Prestasi ketahanan pangan tersebut juga memiliki konteks penting karena Riau merupakan salah satu wilayah yang menghadapi ancaman karhutla. Polda Riau bersama Forkopimda sejak April 2026 telah memperkuat koordinasi lintas sektoral menghadapi musim kemarau dan potensi peningkatan risiko kebakaran. Ancaman tersebut mendorong penguatan sinergi antara kepolisian, pemerintah, TNI, BPBD, BMKG, dunia usaha dan masyarakat.
Pada Juli 2026, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo bahkan melakukan pengecekan kesiapsiagaan karhutla di Riau sekaligus menyerahkan bantuan peralatan penanggulangan kebakaran. Pada kesempatan lain, Kapolri juga mendorong penguatan sektor pertanian Riau melalui distribusi 80 ton pupuk batu bara bagi petani.
Jika capaian Juara Umum Ketahanan Pangan 2026 Klaster 3 tersebut dikaitkan dengan rekam jejak program di lapangan, penghargaan itu memperlihatkan bagaimana Polda Riau berusaha menjalankan peran Polri tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai bagian dari penggerak pembangunan dan ketahanan pangan masyarakat.
Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan sebelumnya menegaskan bahwa kolaborasi menjadi salah satu kunci dalam menjalankan program ketahanan pangan. Polda Riau juga terus mendorong keterlibatan kelompok tani dan pemilik lahan agar program tidak berhenti pada seremoni penanaman, tetapi menghasilkan produksi yang benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat.
Prestasi di sektor ketahanan pangan ini menambah catatan positif Polda Riau sepanjang 2026. Sebelumnya, Polda Riau juga menerima tanda kehormatan Nugraha Sakanti dari Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Penghargaan tersebut diberikan kepada satuan kerja Polri yang dinilai memiliki dedikasi, prestasi dan manfaat nyata bagi masyarakat serta negara.
Dengan demikian, keberhasilan Polda Riau dalam program ketahanan pangan menjadi semakin strategis. Di satu sisi jajaran kepolisian harus menghadapi ancaman karhutla dan menjaga lingkungan, sementara di sisi lain dituntut ikut memperkuat produksi pangan nasional. Dua tantangan tersebut kini berjalan beriringan di Riau.
Polda Riau Juara Umum Ketahanan Pangan 2026 bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi gambaran bahwa kerja kolaboratif, pemanfaatan lahan dan pendampingan petani dapat menjadi bagian dari kontribusi Polri dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus menghadapi tantangan daerah.|Santi Sinaga*











