Militer Israel Kembali Cegat Armada Global Sumud Flotilla, 100 aktivis ditahan

banner 468x60

GAZA, Radarjakarta.id – Ketegangan di kawasan Mediterania Timur kembali memanas setelah militer Israel mencegat armada misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2.0 yang hendak menyalurkan bantuan ke Gaza, Palestina. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengecam keras tindakan tersebut dan langsung bergerak memantau keselamatan warga negara Indonesia (WNI) yang berada di dalam armada kemanusiaan itu.

Situasi yang berkembang cepat membuat perhatian publik internasional kini tertuju pada nasib para relawan, aktivis, dan jurnalis yang ikut dalam misi tersebut. Juru Bicara Kemlu RI, Yvonne Mewengkang, menyebut pencegatan yang dilakukan militer Israel di sekitar perairan Siprus sebagai bentuk penghalangan terhadap misi kemanusiaan internasional.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah Indonesia, sedikitnya 100 kapal dilaporkan dicegat dalam operasi tersebut. Sejumlah kapal yang ikut diamankan antara lain Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys yang membawa relawan lintas negara menuju Gaza.

Di tengah meningkatnya ketegangan, satu nama WNI turut menjadi perhatian pemerintah Indonesia, yakni Andi Angga Prasadewa yang berada di kapal Josef sebagai delegasi Global Peace Convoy Indonesia bersama Rumah Zakat. Kemlu RI menegaskan koordinasi intensif terus dilakukan guna memastikan kondisi seluruh WNI dalam armada tersebut tetap terpantau.

Pemerintah Indonesia juga menyiapkan langkah antisipasi darurat apabila proses evakuasi maupun pemulangan harus segera dilakukan. Perlindungan terhadap WNI disebut menjadi prioritas utama di tengah eskalasi situasi yang terus berkembang.

Sorotan besar turut mengarah kepada dua jurnalis Republika, Bambang Noroyono dan Thoudy Badai, yang ikut dalam misi tersebut untuk menjalankan tugas jurnalistik sekaligus kemanusiaan. Hingga Senin malam, komunikasi dengan kapal yang membawa Bambang Noroyono disebut masih terus diupayakan karena kondisi di lapangan berubah sangat cepat.

Keselamatan kedua jurnalis Indonesia itu kini menjadi perhatian serius setelah muncul laporan bahwa mereka ikut diamankan dalam operasi pencegatan oleh tentara Israel. Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, mengecam keras tindakan Israel terhadap armada Global Sumud Flotilla.

Menurutnya, penangkapan relawan dan jurnalis dalam misi kemanusiaan merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional serta kebebasan pers. Republika menegaskan keikutsertaan kedua jurnalisnya murni untuk peliputan kemanusiaan agar dunia mengetahui langsung kondisi krisis yang terjadi di Gaza.

Pemerintah Indonesia kini mendesak Israel segera membebaskan seluruh kapal beserta awak dan relawan yang ditahan, sekaligus membuka akses penyaluran bantuan kemanusiaan ke Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

Melalui koordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman, Kemlu RI memastikan perlindungan WNI terus dilakukan secara intensif. Kasus pencegatan Global Sumud Flotilla 2.0 ini diperkirakan bakal memicu tekanan internasional baru terhadap Israel sekaligus kembali membuka perdebatan global soal akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.***

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.