Dari “Kota Begal” hingga Turunnya Angka Kriminalitas
Pada November 2018, Arsal Sahban ditugaskan sebagai Kapolres Lumajang. Saat itu, Lumajang dikenal luas sebagai “kota begal” di Jawa Timur. Tingginya angka kriminalitas membuat masyarakat merasa tidak aman, terutama saat berkendara pada malam hari.
Tak lama setelah menjabat, Arsal membentuk unit khusus bernama Tim Cobra yang berfokus menangani tiga persoalan utama, yakni begal, pencurian sapi, dan tambang pasir ilegal.
Nama Tim Cobra kemudian dikenal luas dan menjadi momok bagi para pelaku kejahatan di Lumajang.
Dani, warga Lumajang bagian selatan, mengaku situasi keamanan berubah signifikan saat Arsal memimpin.
“Masalah begal ditindak langsung. Orang luar kalau dengar Lumajang dulu identiknya kota begal, tapi saat itu langsung menurun datanya,” ujarnya.
Arsal juga pernah menyatakan siap memberikan gaji satu bulan kepada warga yang membantu menangkap pelaku begal atau pencurian sapi. Janji itu bahkan benar-benar ditepati ketika seorang warga berhasil menggagalkan aksi pencurian ternak milik tetangganya.
Dalam sejumlah kasus kehilangan sapi, Arsal disebut turun langsung memimpin pencarian hingga dini hari bersama anggota Satreskrim menggunakan drone untuk menyisir area perkebunan tebu.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kriminalitas Lumajang mencapai titik terendah pada 2019, tepat ketika Arsal menjabat Kapolres.
• Rata-rata kasus kriminal sebelum menjabat (2016–2018): 525 kasus per tahun
• Saat menjabat pada 2019: 312 kasus
• Tingkat penyelesaian perkara: 88,46 persen
• Setelah pindah tugas pada 2022: 1.378 kasus atau naik 341 persen dibanding 2019
Menolak “Dua Koper”
Di balik ketegasannya memberantas kriminalitas, integritas pribadi Arsal juga mendapat sorotan.
Hasran, mantan Katim Cobra dan Kasat Reskrim Lumajang yang kini berprofesi sebagai pengacara, mengaku beberapa kali ada pihak yang mencoba menawarkan sesuatu untuk melancarkan penanganan kasus.
“Beberapa kali ada yang menawarkan sesuatu untuk melancarkan kasus, tapi saat saya sampaikan ke beliau, beliau tolak. Bahkan pernah ada yang menawarkan sampai dua koper. Kalau masalah integritas, tidak diragukan lagi,” ujar Hasran.










