JAKARTA, Radarjakarta.id — Siang itu suasana di Makodam Jaya/Jayakarta terasa berbeda. Tidak ada derap pasukan, tidak ada barisan upacara, dan tidak pula agenda resmi yang kaku. Yang terdengar justru percakapan hangat, tawa ringan, serta diskusi santai antara prajurit dan para wartawan yang duduk berdampingan.
Di ruangan sederhana itu, sekitar 30 insan media dari media cetak, online, dan elektronik berkumpul dalam kegiatan silaturahmi yang digelar Penerangan Kodam Jaya (Pendam Jaya), Rabu (24/6/2026). Pertemuan tersebut menjadi ruang dialog antara dua profesi yang sama-sama bekerja di garis depan informasi.
Bagi prajurit, informasi merupakan bagian dari stabilitas. Sementara bagi wartawan, informasi adalah tanggung jawab kepada publik. Di titik itulah keduanya bertemu.
Kapendam Jaya Letkol Arh Noor Iskak menyadari bahwa Jakarta merupakan wilayah yang sangat dinamis. Di tengah derasnya arus informasi digital, satu informasi dapat menyebar ke jutaan orang hanya dalam hitungan menit.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan lagi sekadar kecepatan informasi, melainkan bagaimana memastikan informasi yang beredar tetap akurat dan tidak menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
“Bukan berarti kita mau mengatur pemberitaan, tetapi mari memastikan apa yang disampaikan sesuai fakta. Jangan sampai informasi yang tidak benar justru membuat masyarakat resah,” ujar Noor Iskak.
Bagi Kapendam, media bukan sekadar pihak yang memberitakan kegiatan TNI. Lebih dari itu, media merupakan mitra strategis dalam menjaga ruang publik tetap sehat, terutama di tengah maraknya hoaks dan disinformasi yang mudah menyebar melalui media sosial.
Pertemuan tersebut juga menjadi langkah awal membangun komunikasi yang lebih terbuka antara Kodam Jaya dan insan pers.
“Ini baru tahap perkenalan. Ke depan kami berharap ada kegiatan yang lebih variatif dan partisipatif sehingga kolaborasi antara TNI, Polri, dan media semakin kuat dalam menjaga Jakarta tetap aman dan kondusif,” katanya.
Di sisi lain, insan pers yang hadir melihat silaturahmi tersebut sebagai bentuk keterbukaan institusi TNI terhadap media. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jaya yang diwakili Wakil Ketua Bidang Pendidikan Indra Utama bersama Wakil Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan Bonar turut hadir dalam kegiatan itu.
Mewakili Ketua PWI Jaya Kesit Handoyo, Indra Utama menyampaikan bahwa media dan TNI memang memiliki tugas yang berbeda, namun keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga kepentingan bangsa dan negara.
Di era digital saat ini, menurutnya, sinergi antara media dan institusi negara menjadi semakin penting untuk menghadirkan informasi yang sehat sekaligus menangkal penyebaran hoaks.
“PWI Jaya berharap silaturahmi ini semakin memperkuat kolaborasi dan semangat kebersamaan dalam menjaga persatuan bangsa melalui komunikasi yang sehat dan produktif,” ujar Indra.
Pertemuan itu mungkin berlangsung hanya beberapa jam. Namun di tengah derasnya arus informasi yang kerap memecah ruang publik, dialog sederhana seperti ini memiliki makna yang lebih besar.
Di satu sisi ada prajurit yang menjaga keamanan. Di sisi lain ada wartawan yang menjaga informasi. Keduanya memiliki tanggung jawab yang berbeda, tetapi berpijak pada tujuan yang sama: menjaga masyarakat tetap tenang, mendapatkan informasi yang benar, dan memastikan Jakarta tetap kondusif.
Menjelang akhir acara, percakapan masih terus berlangsung. Tidak ada sekat antara seragam loreng dan kartu pers. Yang ada hanyalah semangat untuk saling memahami dan membangun kepercayaan.
Karena pada akhirnya, menjaga sebuah kota tidak hanya dilakukan melalui pengamanan di lapangan, tetapi juga melalui informasi yang jernih, komunikasi yang terbuka, dan sinergi yang terus dirawat.











