HUT ke-53, PDPI Tegaskan Komitmen Menjaga Napas Indonesia: Udara Bersih, Paru Sehat, Indonesia Kuat

Foto: Istimewa
banner 468x60

Kanker Paru Perlu Deteksi Lebih Dini

PDPI juga menyoroti tingginya beban kanker paru di Indonesia. Data GLOBOCAN 2024 memperkirakan terdapat 58.446 kasus baru kanker paru di Indonesia dengan sekitar 53.323 kematian.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Menurut Susanthy, salah satu tantangan terbesar adalah masih banyak pasien yang datang ketika penyakit sudah berada pada stadium lanjut.

“Risiko kanker paru memang sangat erat dengan rokok, tetapi juga berkaitan dengan asap rokok orang lain, polusi udara, pajanan karsinogen di tempat kerja, faktor genetik, dan faktor lainnya,” katanya.

PDPI mendorong pengendalian konsumsi rokok, perlindungan masyarakat dari polusi dan pajanan kerja, peningkatan kesadaran terhadap gejala awal, serta strategi deteksi dini bagi kelompok berisiko tinggi.

Gejala seperti batuk menetap, batuk darah, sesak, nyeri dada, suara serak yang menetap, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau infeksi paru berulang perlu mendapatkan evaluasi lebih lanjut.

“Kanker paru bukan hanya penyakit perokok. Setiap orang perlu memahami faktor risiko dan gejala peringatannya,” tegasnya.

ISPA dan Pneumonia Masih Membebani Masyarakat

Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia juga masih menjadi persoalan kesehatan, khususnya pada anak-anak, lansia, serta kelompok yang memiliki penyakit penyerta.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 melaporkan prevalensi ISPA berdasarkan diagnosis atau gejala dalam satu bulan terakhir sebesar 23,5 persen pada semua kelompok umur.

Karena itu, pencegahan, vaksinasi sesuai indikasi, diagnosis yang tepat, serta akses pelayanan kesehatan yang cepat tetap menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kesehatan respirasi masyarakat.

Polusi Udara Jadi Persoalan Kesehatan

PDPI menilai polusi udara tidak dapat dipandang semata sebagai persoalan lingkungan. Paparan partikulat halus seperti PM2.5 dapat masuk jauh ke saluran pernapasan dan memperburuk asma, PPOK, penyakit jantung, serta berbagai kondisi kesehatan lainnya.

Sumber polusi antara lain berasal dari kendaraan bermotor, industri, pembangkit energi, konstruksi, pembakaran terbuka, asap rokok, dan berbagai sumber rumah tangga.

“Menjaga kualitas udara berarti menjaga kesehatan generasi hari ini dan generasi yang akan datang,” kata Susanthy.

Karhutla dan Ancaman terhadap Kesehatan Pernapasan

Ancaman lain datang dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Asap karhutla mengandung campuran partikulat dan gas yang dapat menyebabkan batuk, iritasi saluran napas, sesak, serangan asma, eksaserbasi PPOK, serta meningkatkan keluhan respirasi.

Berdasarkan Situation Report Kementerian Kesehatan per 27 Agustus 2026, karhutla berdampak terhadap lebih dari 10,6 juta penduduk di tujuh provinsi dan tercatat 13.449 kasus ISPA secara kumulatif dari 63 kabupaten/kota.

Kelompok yang membutuhkan perlindungan khusus antara lain anak-anak, lansia, ibu hamil, pasien asma atau PPOK, pasien penyakit jantung, serta pekerja luar ruangan.

Respons kesehatan, kata Susanthy, perlu mencakup komunikasi risiko secara cepat, pemantauan kualitas udara, akses terhadap respirator yang sesuai, ruang udara bersih, kesiapan oksigen, inhaler, serta obat untuk penyakit kronis.

“Asap bukan sekadar gangguan kenyamanan. Asap adalah ancaman kesehatan,” ujarnya.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.