Haidar Alwi: Saatnya Rupiah Menjadi Fondasi Industrialisasi Indonesia

Ilustrasi. (Foto: Ist)
banner 468x60

Rupiah Kompetitif dan Ilmu Ekonomi di Balik Industrialisasi Indonesia

Indonesia masih menghadapi ketergantungan struktural terhadap berbagai komoditas dan bahan baku impor, mulai dari gandum, kedelai, hingga komponen farmasi dan elektronik. Dalam kondisi seperti ini, rupiah yang terlalu kuat dapat membuat barang impor tampak murah, sehingga insentif untuk mengembangkan produksi domestik menjadi lebih lemah. Sebaliknya, kurs yang kompetitif dapat mendorong import substitution, yaitu proses menggantikan produk impor dengan hasil karya anak bangsa.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Dalam ekonomi moneter dan ekonomi internasional, kondisi ini terkait dengan konsep real effective exchange rate (REER), yaitu ukuran daya saing mata uang setelah memperhitungkan inflasi dan hubungan dagang dengan banyak negara. Nilai tukar yang sehat bukan sekadar yang tampak kuat, tetapi yang mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas harga, daya saing industri, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Haidar Alwi menekankan bahwa tujuan kebijakan bukanlah melemahkan rupiah tanpa batas. Pelemahan mata uang tetap memiliki risiko berupa inflasi, kenaikan harga energi, dan peningkatan beban utang luar negeri. Karena itu, yang dibutuhkan adalah kurs yang stabil dan cukup kompetitif untuk mendorong produksi, riset, serta inovasi nasional.

“Yang harus ditakuti bukanlah rupiah yang bergerak, melainkan bangsa yang berhenti mencipta. Selama petani mampu menghasilkan benih unggul, insinyur mampu merancang teknologi, dan industri mampu mengolah sumber daya alam, nilai tukar akan berubah dari sumber kecemasan menjadi mesin transformasi. Itulah Competitive Currency Equilibrium, yaitu titik keseimbangan ketika stabilitas moneter dan produktivitas nasional saling menguatkan,” jelas Haidar Alwi.

Pemahaman tersebut membawa kita pada satu kesimpulan strategis bahwa kekuatan rupiah yang sesungguhnya hanya akan lahir ketika seluruh potensi bangsa diarahkan untuk membangun kemandirian ekonomi.

Dari Rupiah ke Kedaulatan: Strategi Besar Indonesia Menuju Negara Maju

Indonesia memiliki seluruh prasyarat untuk menjadi kekuatan ekonomi besar dunia. Negeri ini dianugerahi sumber daya alam yang melimpah, bonus demografi, posisi geostrategis, serta generasi muda yang kreatif dan adaptif terhadap teknologi. Tantangan utama kita bukan kekurangan potensi, melainkan bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi kapasitas produksi yang nyata.

Rupiah harus dipahami sebagai instrumen yang menghubungkan pertanian, industri, riset, teknologi, dan hilirisasi sumber daya alam. Ketika nilai tukar dikelola dengan visi yang benar, tekanan ekonomi dapat mendorong percepatan substitusi impor, penguatan manufaktur, peningkatan ekspor bernilai tambah, dan penciptaan jutaan lapangan kerja berkualitas.

“Bangsa besar tidak diukur dari seberapa mahal mata uangnya terhadap dolar, melainkan dari seberapa besar kemampuannya mengubah tanah menjadi pangan, tambang menjadi industri, dan ilmu pengetahuan menjadi teknologi. Jika Donald Trump saja memahami bahwa mata uang adalah alat untuk melindungi industri nasional, maka Indonesia harus mulai memandang rupiah sebagai fondasi industrialisasi, inovasi, dan kedaulatan ekonomi. Ketika rupiah dipahami sebagai instrumen peradaban, setiap gejolak kurs tidak lagi menimbulkan ketakutan, tetapi justru membangkitkan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri dan membangun masa depan Indonesia yang lebih bermartabat,” pungkas Haidar Alwi.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS.Ā Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.