Dengan demikian, keberhasilan pembangunan ekonomi tidak cukup diukur melalui pertumbuhan PDB atau besarnya modal yang ditanamkan. Pemerataan kesempatan dan peningkatan kualitas hidup masyarakat juga perlu menjadi tolok ukur utama.
Dua tahun pertama pemerintahan Prabowo-Gibran dapat dipandang sebagai periode untuk memperkuat fondasi dan menentukan arah kebijakan ekonomi. Namun, keberlanjutan hasilnya akan sangat bergantung pada konsistensi pelaksanaan program, kualitas belanja negara, serta kemampuan pemerintah mengatasi persoalan struktural.
Dalam tiga tahun berikutnya, tantangan yang perlu dijawab adalah bagaimana mengubah pertumbuhan menjadi kemakmuran yang lebih merata.
Investasi harus menghasilkan kegiatan produksi yang berkelanjutan. Hilirisasi perlu memperkuat industri nasional. Ekspor harus semakin beragam dan kompetitif. Sementara itu, stabilitas harga perlu dijaga agar daya beli masyarakat tidak tergerus.
Pemerintah juga perlu mempertahankan disiplin fiskal dan memastikan penggunaan anggaran memberikan manfaat nyata. Di tengah berbagai kebutuhan pembangunan, efektivitas belanja negara menjadi penting agar program prioritas tidak mengurangi ruang pembiayaan bagi sektor-sektor strategis lainnya.
Kepastian hukum dan konsistensi regulasi turut menentukan kepercayaan pelaku usaha. Dunia usaha membutuhkan lingkungan yang memungkinkan investasi direncanakan dalam jangka panjang tanpa ketidakpastian kebijakan yang berlebihan.
Pada saat bersamaan, pemerintah harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dinikmati kelompok atau wilayah tertentu, tetapi membuka kesempatan yang lebih luas bagi masyarakat di berbagai daerah.
Pada akhirnya, inti dari catatan ekonomi mengenai dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran adalah pentingnya menilai pembangunan berdasarkan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, penguatan ekspor, dan hilirisasi merupakan indikator yang relevan untuk membaca perkembangan ekonomi nasional. Namun, seluruh capaian tersebut perlu dihubungkan dengan hasil nyata, mulai dari kesempatan kerja, peningkatan pendapatan, daya beli, hingga pemerataan kesejahteraan.
Indonesia memiliki modal berupa pasar domestik yang besar, sumber daya alam yang beragam, dan potensi pengembangan industri. Tantangannya adalah mengelola seluruh potensi tersebut secara produktif, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan masyarakat luas.
Dua tahun pertama menjadi bagian dari perjalanan pembangunan yang masih berlangsung. Tiga tahun berikutnya akan menjadi kesempatan untuk memperkuat pelaksanaan kebijakan, memperbaiki berbagai kekurangan, dan memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang lebih merata.
Ekonomi yang kuat bukan hanya ekonomi yang mencatat pertumbuhan dalam laporan statistik, melainkan ekonomi yang mampu memberikan kepastian bagi dunia usaha, pekerjaan yang layak bagi generasi muda, kesempatan berkembang bagi UMKM, serta kehidupan yang lebih sejahtera bagi rakyat Indonesia.
Catatan Ekonomi Bambang Soesatyo pada akhirnya menempatkan kualitas pertumbuhan sebagai persoalan penting: bukan hanya seberapa besar ekonomi Indonesia tumbuh, tetapi juga bagaimana pertumbuhan itu menciptakan nilai tambah, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.











