JAKARTA, RadarJakarta.id – Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi momentum penting untuk mengevaluasi arah perekonomian Indonesia.
Di tengah ketidakpastian global, gejolak geopolitik, dan perubahan lanskap perdagangan internasional, tantangan pemerintah bukan sekadar mempertahankan pertumbuhan ekonomi, melainkan memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Dalam Catatan Ekonomi Bambang Soesatyo pada hari ini Selasa (20/10/2026), pertumbuhan ekonomi, peningkatan investasi, penguatan ekspor, pengendalian inflasi, dan percepatan hilirisasi menjadi sejumlah aspek penting untuk membaca perjalanan ekonomi nasional selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, menyoroti pentingnya perubahan struktur ekonomi agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor bahan mentah maupun konsumsi domestik semata. Menurut perspektif analisis tersebut, pembangunan ekonomi perlu diarahkan pada penciptaan nilai tambah, penguatan industri nasional, perluasan lapangan kerja, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Salah satu indikator utama untuk menilai perkembangan perekonomian nasional adalah pertumbuhan produk domestik bruto (PDB). Berdasarkan data dalam catatan tersebut, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,11 persen sepanjang 2025, meningkat dibandingkan pertumbuhan 5,03 persen pada 2024.
Memasuki 2026, pertumbuhan ekonomi disebut mencapai 5,61 persen pada triwulan I dan 5,29 persen pada triwulan II. Capaian ini menggambarkan aktivitas ekonomi yang masih ditopang konsumsi rumah tangga, investasi, serta belanja pemerintah.
Pertumbuhan ekonomi memiliki arti lebih luas daripada sekadar peningkatan angka statistik. Aktivitas produksi yang meningkat dapat membuka peluang usaha, memperluas kebutuhan tenaga kerja, dan memperkuat perputaran uang di masyarakat.
Namun, pertumbuhan yang tinggi belum tentu secara otomatis meningkatkan kesejahteraan seluruh kelompok masyarakat. Kualitas pertumbuhan juga ditentukan oleh kemampuan ekonomi menciptakan pekerjaan yang layak, menjaga daya beli, menekan kesenjangan, dan memperluas akses masyarakat terhadap peluang usaha.
Karena itu, tantangan pemerintahan Prabowo-Gibran adalah memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan stabilitas harga, keberlanjutan fiskal, serta peningkatan produktivitas nasional.
Investasi menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas kapasitas produksi dan memperkuat fondasi perekonomian Indonesia.
Dalam catatan ekonomi tersebut, realisasi investasi pada semester I 2026 tercatat mencapai Rp1.010,6 triliun, meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi itu juga disebut menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung.
Nilai tersebut setara dengan sekitar 49,5 persen dari target investasi nasional sepanjang 2026.
Capaian investasi tidak hanya penting dilihat dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Investasi yang produktif dapat mendorong pembangunan fasilitas produksi, memperluas jaringan pemasok, meningkatkan kebutuhan tenaga kerja, serta membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).











