Andrian Lame: Rupiah Melemah dan Harga Pangan Naik, Inkoppas Dorong Subsidi hingga Digitalisasi Pasar Tradisional

banner 468x60

Sekretaris Umum Inkoppas, Andrian Lame Muhar

JAKARTA, Radarjakarta.id – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai menjadi salah satu faktor utama melonjaknya harga pangan di Indonesia. Kondisi ini berdampak langsung terhadap biaya impor bahan pangan, distribusi, hingga kebutuhan produksi di pasar tradisional.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Sekretaris Umum Induk Koperasi Pedagang Pasar (Inkoppas), Andrian Lame Muhar, menegaskan bahwa pengaruh kurs dolar terhadap sektor pangan saat ini sangat besar karena sebagian kebutuhan pokok Indonesia masih bergantung pada impor.

Menurutnya, kenaikan dolar AS otomatis membuat biaya impor pangan meningkat, mulai dari sapi hidup asal Australia, kedelai, bawang putih dari China, hingga kebutuhan penunjang seperti bahan pendingin dan kemasan pangan.

“Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS, maka harga pokok penjualan pangan ikut naik. Banyak komoditas pangan kita masih menggunakan transaksi dolar sehingga dampaknya langsung terasa di pasar,” ujar Andrian dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (21/5/2026) malam.

Ia menjelaskan, impor sapi dari Australia masih menggunakan pembayaran dolar AS. Setelah sapi digemukkan di Indonesia, biaya pakan konsentrat hingga proses pendinginan daging juga ikut terdampak karena beberapa kebutuhan industri masih berbasis impor.

Tak hanya itu, harga minyak goreng domestik juga ikut terdorong naik akibat tingginya harga ekspor dan pengaruh skema Domestic Market Obligation (DMO). Selain itu, perang di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, turut memengaruhi harga bahan baku kemasan berbasis nafta yang kini semakin mahal dan langka.

“Bahan kemasan makanan banyak berasal dari turunan minyak bumi seperti nafta. Ketika pasokan global terganggu, harga kemasan otomatis naik dan akhirnya membebani harga pangan,” katanya.

Andrian juga menyoroti menurunnya daya beli masyarakat akibat kondisi ekonomi dan lapangan pekerjaan yang belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, situasi tersebut membuat masyarakat semakin sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

Untuk menjaga stabilitas harga pangan, Inkoppas mendorong pemerintah memperluas kebijakan subsidi dan bantuan pangan secara lebih masif dan terintegrasi.

Ia menilai langkah pemerintah selama ini sudah cukup baik, namun perlu diperkuat agar distribusi pangan dan biaya operasional pelaku usaha pasar tidak terlalu tinggi.

“Subsidi pangan, bantuan distribusi melalui tol laut, pelonggaran pajak pangan, hingga bantuan untuk peternak harus diperluas agar harga tetap terkendali,” ujarnya.

Ia juga menilai pemerintah telah melakukan berbagai langkah strategis, termasuk membantu peternak ayam melalui subsidi pakan, bantuan bibit ternak, dan penurunan biaya produksi agar harga ayam di pasar tetap terjangkau.

Selain membahas stabilitas pangan, Inkoppas saat ini juga tengah mempercepat transformasi digital koperasi pasar tradisional bekerja sama dengan Bank Tabungan Negara atau BTN.

Andrian mengungkapkan bahwa Inkoppas dan BTN telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) terkait digitalisasi koperasi pedagang pasar. Program tersebut mencakup pengelolaan simpan pinjam, pencatatan keuangan digital, hingga sistem transaksi non-tunai bagi pedagang pasar.

“Kami sedang melakukan migrasi data koperasi pedagang pasar ke sistem digital agar pengelolaan keuangan lebih tertata dan aman. Selama ini banyak data masih berbentuk manual sehingga rawan hilang,” jelasnya.

Salah satu koperasi yang mulai menjalankan sistem tersebut adalah Koperasi Pedagang Pasar (Koppas) Rawamangun. Ke depan, Inkoppas menargetkan transaksi pasar tradisional dapat beralih secara bertahap ke sistem cashless atau non-tunai.

Meski demikian, Andrian mengakui digitalisasi pasar masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan jaringan internet, kesiapan perangkat teknologi, hingga edukasi pedagang terkait penggunaan sistem digital.

Melalui konsep One Stop Solution (OSS), Inkoppas ingin menghadirkan layanan terpadu berbasis digital yang tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga membantu akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), pelatihan usaha, hingga pembelajaran daring bagi pedagang pasar.

“Dengan digitalisasi, harga pangan bisa lebih mudah dipantau, distribusi bantuan lebih tepat sasaran, dan pedagang pasar bisa naik kelas mengikuti perkembangan zaman,” tutup Andrian. |Guffe*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.