JAKARTA, Radarjakarta.id – Aliansi Para Pemuda Tanpa Perang (No War Youth Alliances) menggelar aksi damai di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Kamis (23/4/2026).
Aksi ini diikuti oleh sejumlah organisasi kepemudaan, di antaranya DPD GMNI DKI Jakarta, PMKRI Jakarta Selatan, PMKRI Jakarta Timur, dan HMI Jakpustara.
Koalisi lintas organisasi ini menyatakan diri sebagai gerakan inklusif yang terbuka bagi seluruh elemen masyarakat, mahasiswa, dan kelompok progresif untuk bersama-sama menyuarakan perdamaian dunia.
Dalam pernyataan resminya, aliansi tersebut menegaskan bahwa aksi damai ini bertujuan melawan segala bentuk perang yang dinilai hanya memperparah penderitaan masyarakat sipil, memperlebar ketimpangan antarnegara, dan mengancam stabilitas global.
“Semua multiplisitas gerakan ini diikat oleh kehendak baik untuk melawan segala macam bentuk perang yang hanya akan menyengsarakan warga sipil, memperbesar ketidakadilan antar bangsa, dan mengancam perdamaian dunia,” demikian pernyataan No War Youth Alliances dalam rilisnya, Kamis (23/4/2026).
Mereka menilai situasi geopolitik global saat ini sedang memasuki fase yang mengkhawatirkan. Dalam rilis tersebut, aliansi mengutip pandangan Michael Hardt dan Sandro Mezzadra mengenai munculnya “rezim perang global”, yaitu kondisi ketika kekuatan politik dan militer saling terkait erat dengan kepentingan kapitalisme global.
“Dunia kontemporer tengah memasuki suatu dekadensi sejarah kemanusiaan, suatu masa yang disebut sebagai ‘Rezim Perang Global’,” tulis mereka.
Aliansi juga menyoroti ketegangan antara Paus Leo XIV dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam dua pekan terakhir, terutama terkait kritik Paus terhadap kebijakan perang Amerika Serikat.
Menurut mereka, seruan Paus mencerminkan aspirasi moral global untuk mengedepankan dialog ketimbang konflik bersenjata.
“Keberanian Paus dalam mengkritik politik perang Trump sejatinya menyuarakan harapan dan penderitaan kemanusiaan,” lanjut pernyataan itu.
Dalam aksi damai tersebut, No War Youth Alliances menyampaikan empat tuntutan utama. Pertama, menggalang solidaritas dengan masyarakat sipil Amerika Serikat untuk menolak kebijakan perang yang dianggap hanya menimbulkan penderitaan.
Kedua, memperkuat solidaritas pemuda di negara-negara Global South guna mendorong penyelesaian konflik melalui dialog dan penghentian kekerasan.
Ketiga, mendesak Pemerintah Indonesia agar lebih aktif di forum internasional untuk menolak segala bentuk penjajahan dan memperjuangkan perdamaian dunia sesuai amanat konstitusi.
Keempat, mengajak seluruh organisasi keagamaan di Indonesia agar secara konsisten mengkritisi praktik “komodifikasi perang” dan mendorong jalan dialog demi kesejahteraan umat manusia.
“Mendesak Pemerintah Republik Indonesia agar secara lebih tegas dan aktif di forum-forum internasional untuk menolak segala bentuk penjajahan serta menyerukan perdamaian abadi sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945,” tegas aliansi tersebut.
Aksi damai ini ditutup dengan seruan perdamaian universal melalui slogan: “Si vis pacem, para dialogum”—jika menginginkan perdamaian, maka tempuhlah dialog.











