Kompetisi bertajuk Gelato World Tour Individual Competition tersebut diselenggarakan Krista Exhibitions bekerja sama dengan Italian Exhibition Group (IEG). Ajang ini tidak hanya menjadi wadah kompetisi bagi para profesional gelato, tetapi juga memperlihatkan kreativitas peserta dalam mengolah bahan pangan menjadi produk gelato dengan cita rasa dan karakter berbeda.
Presiden Indonesian Pastry and Bakery Society (IPBS), Chef Louis Tanuhadi, menilai perkembangan gelato menjadi peluang besar bagi industri makanan dan minuman, khususnya sektor pastry dan bakery di Indonesia.
Menurutnya, perubahan perilaku konsumen yang semakin memperhatikan kualitas bahan, cita rasa, serta pengalaman menikmati dessert premium menjadi salah satu faktor pendorong meningkatnya pasar gelato di Tanah Air.
Selain menjadi ajang unjuk kemampuan para pembuat gelato dari berbagai negara, kompetisi tersebut juga memperlihatkan potensi bahan pangan lokal yang dapat dikembangkan menjadi kreasi gelato dengan cita rasa khas dan bernilai tambah.
Namun, di tengah meningkatnya popularitas gelato, Chef Louis mengingatkan konsumen agar lebih cermat mengenali produk asli. Pasalnya, saat ini terdapat produk es krim yang menggunakan label gelato untuk meningkatkan nilai jual.
“Sekarang banyak produk es krim yang diberi nama gelato agar harga jualnya lebih tinggi. Padahal, gelato dan es krim memiliki karakteristik serta proses pembuatan yang berbeda,” ujar Chef Louis.
Ia menjelaskan, gelato memiliki karakteristik tersendiri, baik dari tekstur, komposisi, maupun proses pembuatannya. Karena itu, konsumen perlu memahami perbedaan kedua produk tersebut agar tidak hanya membeli berdasarkan nama atau harga.
Chef Louis juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan kondisi gelato saat dipajang di etalase. Salah satu hal yang perlu diwaspadai adalah munculnya kristal es atau bunga es pada permukaan produk.
“Kalau gelato yang dipajang sudah banyak bunga es, sebaiknya jangan langsung dibeli. Itu bisa menjadi indikasi bahwa produk tidak disimpan dengan baik,” jelasnya.
Menurutnya, gelato membutuhkan penanganan dan pengaturan suhu penyimpanan yang tepat untuk menjaga tekstur, cita rasa, serta kualitas produk. Proses penyimpanan yang tidak sesuai dapat memengaruhi karakter gelato ketika disajikan kepada konsumen.
Ia menilai, pertumbuhan pasar gelato di Indonesia harus diimbangi dengan edukasi konsumen dan peningkatan profesionalisme pelaku usaha. Standar produksi, kualitas bahan baku, serta penanganan produk menjadi aspek penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat.
Melalui kompetisi Gelato World Tour Individual Competition di Krista InterFOOD 2026, Chef Louis berharap industri gelato Indonesia semakin berkembang dan mampu melahirkan inovasi yang memanfaatkan potensi bahan pangan lokal.
Di sisi lain, meningkatnya minat masyarakat terhadap gelato diharapkan mendorong pelaku usaha untuk tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga mengutamakan kualitas, kreativitas, dan keaslian produk.
Dengan demikian, gelato tidak hanya menjadi tren dessert premium, tetapi juga membuka peluang pengembangan industri kuliner nasional agar semakin kompetitif di pasar internasional.













