Kegiatan diawali dengan pengantar Hari Literasi dan Penguatan Organisasi IKWI yang dipandu Moderator Rahmayulis. Sesi utama menghadirkan Jiean Ajiyanpi N sebagai pemateri yang mengupas pentingnya kepemimpinan berintegritas, mampu membangun sinergi, serta adaptif menghadapi perubahan.
Dalam paparannya, Jiean menekankan bahwa literasi kepemimpinan IKWI tidak boleh berhenti pada pemahaman, tetapi harus bermuara pada gerakan organisasi yang aktif, mandiri, bersinergi, dan memberikan dampak.
Ia memaparkan empat langkah utama untuk mengubah pemahaman menjadi gerakan, yakni memahami aturan dan peran kepemimpinan, mengubah kebutuhan menjadi program, membangun tata kelola dan sinergi, serta membuktikan hasil melalui rencana kerja 90 hari.
“Dari memahami AD/ART hingga menggerakkan pengurus, membangun sinergi dan menghasilkan dampak,” menjadi salah satu penekanan dalam materi tersebut.
Menurut Jiean, AD/ART harus menjadi kompas kepemimpinan, bukan sekadar dokumen administratif. Pemahaman terhadap AD/ART perlu diterjemahkan menjadi prioritas di daerah, dijalankan, dan kemudian diukur hasilnya.
Ketua IKWI, lanjutnya, bukan sekadar pengurus, melainkan penggerak organisasi. Ketua yang kuat bukanlah ketua yang mengerjakan semuanya sendiri, tetapi pemimpin yang mampu membuat pengurus memahami perannya, melibatkan anggota, serta memastikan setiap program memberikan manfaat.
“Ketua IKWI yang kuat membuat orang lain mampu bergerak, visioner, menggerakkan, melayani, bersinergi, dan memberdayakan,” paparnya.
Ia juga menekankan lima karakter penting yang perlu menjadi kebiasaan kerja seorang pemimpin IKWI, yakni integritas, loyalitas, adaptif, sinergi, serta kepedulian.
Dalam menyusun program, pengurus daerah diberikan ruang untuk berkreasi sesuai kebutuhan masing-masing. Namun, kreativitas tersebut tetap harus berada dalam kerangka AD/ART dan kebutuhan organisasi, antara lain dalam bidang komunikasi dan informasi, kaderisasi, literasi digital, serta administrasi.
Sepuluh Pesan Penting untuk Pengurus IKWI
Dari materi yang disampaikan, terdapat 10 pesan yang diharapkan dapat dibawa pulang dan diterapkan oleh para peserta.
Pertama, AD/ART merupakan kompas organisasi, bukan beban administrasi. Kedua, ketua tidak harus menjadi orang yang paling sibuk, tetapi harus mampu menggerakkan pengurus. Ketiga, program tidak harus banyak, tetapi harus relevan dan bermanfaat.
Keempat, setiap daerah memiliki kebutuhan yang berbeda sehingga program dapat disesuaikan. Kelima, kolaborasi merupakan kekuatan organisasi. Keenam, administrasi yang baik membangun kepercayaan.
Ketujuh, anggota merupakan sumber kekuatan organisasi. Kedelapan, kaderisasi harus dimulai sejak sekarang. Kesembilan, evaluasi dilakukan untuk menemukan perbaikan, bukan mencari kesalahan. Kesepuluh, ukuran keberhasilan organisasi adalah semakin aktif, mandiri, bersinergi, dan bermanfaat.
Pesan tersebut kemudian dirangkum dalam komitmen kepemimpinan IKWI: memahami, menggerakkan, bersinergi, memberdayakan, dan menyiapkan penerus.
“Saya tidak harus melakukan semuanya. Saya harus membuat ibu-ibu bergerak bersama,” menjadi salah satu pesan kunci yang mengemuka dalam sesi tersebut.
Indah Kirana: Kepemimpinan Dimulai dari Diri Sendiri dan Keluarga
Ketua Umum IKWI Pusat Indah Kirana dalam sambutannya menekankan bahwa integritas, loyalitas, sinergi, dan kemampuan beradaptasi menjadi modal penting bagi pemimpin di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat.
Perkembangan teknologi dan derasnya arus informasi, menurut Indah, membuat pemimpin tidak cukup hanya memiliki kemampuan memimpin. Seorang pemimpin juga harus memiliki nilai-nilai yang kuat.
“Seorang pemimpin harus memiliki nilai-nilai yang kuat, yaitu integritas, loyalitas, sinergi, dan kemampuan beradaptasi,” ujarnya.
Indah menjelaskan, integritas merupakan fondasi utama kepemimpinan. Tanpa integritas, kepemimpinan akan kehilangan kepercayaan. Pemimpin berintegritas harus mampu menjaga kejujuran, konsistensi, tanggung jawab, serta komitmen dalam setiap tindakan.
Ia juga mengaitkan literasi dengan kepemimpinan di era digital. Literasi, kata Indah, tidak lagi sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami informasi, menyaringnya, menggunakannya secara bijaksana, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Jangan sampai kita menjadi pemimpin yang cepat bereaksi tetapi lambat memahami. Jangan sampai kita mudah percaya pada suatu informasi, tetapi malas melakukan verifikasi,” tegasnya.
Menurut Indah, budaya literasi juga harus dibangun mulai dari keluarga dan lingkungan masyarakat. Keluarga merupakan sekolah pertama bagi lahirnya pemimpin masa depan. Dari keluarga, anak-anak belajar mengenai kejujuran, tanggung jawab, menghargai perbedaan, serta menggunakan informasi dan teknologi secara bijaksana.
“Kepemimpinan sesungguhnya tidak selalu dimulai dari ruang rapat, jabatan, atau organisasi. Kepemimpinan dimulai dari diri sendiri dan dari rumah kita masing-masing,” katanya.
Indah berharap Hari Literasi IKWI 2026 tidak berhenti sebagai forum untuk mendengarkan paparan, tetapi menjadi ruang untuk berpikir, berdialog, berbagi pengalaman, sekaligus melakukan refleksi bagi seluruh anggota IKWI.
Ia optimistis, apabila nilai integritas, loyalitas, sinergi, dan kemampuan beradaptasi terus ditumbuhkan, IKWI akan semakin kuat dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi anggota, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara.

Kolaborasi Organisasi dan Pendidikan
Sementara itu, Ketua Panitia Hari Literasi IKWI 2026, Rabiatun, mengatakan kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Bidang Organisasi dan Bidang Pendidikan IKWI Pengurus Pusat.
Menurut Rabiatun, kolaborasi tersebut penting karena penguatan organisasi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus berjalan beriringan.
Bidang Organisasi berperan memperkuat tata kelola, koordinasi, komunikasi, dan konsolidasi. Sementara Bidang Pendidikan berfokus pada peningkatan wawasan, kapasitas, dan kualitas sumber daya manusia.
“Kita ingin setiap Ketua IKWI, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, bukan sekadar menjadi pemegang jabatan, tetapi menjadi penggerak organisasi yang mampu merangkul anggota, mengembangkan potensi, membangun kerja sama, serta menyiapkan keberlanjutan organisasi,” ujar Rabiatun.
Ia menegaskan, kekuatan IKWI terletak pada kebersamaan dan sinergi seluruh pengurus, termasuk sekretaris dan bendahara.
“IKWI tidak akan bertumbuh jika berjalan sendiri-sendiri. IKWI akan semakin kuat jika kita mampu bersinergi. Dan IKWI akan terus berkesinambungan jika kita mampu beradaptasi,” katanya.
Rabiatun berharap pengetahuan, gagasan, dan pengalaman yang diperoleh melalui Hari Literasi IKWI 2026 dapat diterjemahkan menjadi program nyata di daerah masing-masing.
Antusiasme Peserta
Antusiasme peserta terlihat dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Sejumlah peserta aktif menyampaikan pertanyaan, baik secara langsung maupun melalui kolom chat Zoom.
Lima peserta yang mengajukan pertanyaan pertama dan mendapatkan hadiah dari Pengurus Pusat IKWI masing-masing adalah Titiek dari Sulawesi Selatan, Reni dari Bukittinggi, Sumatera Barat, Leny dari Riau, Ana dari Jawa Barat, dan Eni dari Metro, Lampung.
Pertanyaan juga disampaikan melalui kolom chat Zoom oleh IKWI Sumatera Utara dan Widia Ratna dari IKWI Lhokseumawe.
Kegiatan kemudian ditutup dengan komitmen bersama Ketua IKWI se-Indonesia, pembacaan Deklarasi/Komitmen Literasi Kepemimpinan IKWI oleh Ketua Umum PP IKWI, serta foto bersama.
Hari Literasi IKWI 2026 menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi antara pengurus pusat dan daerah sekaligus meneguhkan arah organisasi: aktif, mandiri, bersinergi, dan memberikan manfaat.
Semangat tersebut dirangkum dalam satu pesan sederhana: IKWI yang kuat tidak dibangun oleh satu orang, tetapi oleh seluruh keluarga besar IKWI yang mau bergerak, berjuang, dan menjaga organisasi bersama.











