JAKARTA, Radarjakarta.id — Red Bull Racing mulai mengambil langkah strategis untuk memperkuat fondasi tim sekaligus menjaga masa Tom McCullough Max Verstappen di tengah spekulasi mengenai kelanjutan karier juara dunia empat kali tersebut. Salah satu langkah yang mencuri perhatian paddock Formula 1 adalah rencana perekrutan Tom McCullough dari Aston Martin.
McCullough, yang saat ini menjabat sebagai Performance Director di Aston Martin, dipastikan meninggalkan tim tersebut pada akhir musim 2026. Ia telah menjadi bagian penting dari perjalanan Aston Martin selama lebih dari satu dekade, setelah sebelumnya bekerja di Williams dan Sauber.
Menurut laporan BILD yang kemudian menjadi pembicaraan di komunitas F1, McCullough diproyeksikan bergabung dengan Red Bull sebagai Head of Race Engineering. Posisi tersebut dinilai strategis karena berkaitan langsung dengan koordinasi operasional tim di lintasan.
Langkah tersebut semakin menarik karena Red Bull sedang menghadapi periode transisi. Performa tim pada musim 2026 belum konsisten, sementara Verstappen mulai menghadapi situasi yang berbeda dibandingkan era dominasi Red Bull pada 2021-2024. Red Bull bahkan sempat mengalami masalah teknis yang membuat Verstappen kehilangan peluang meraih hasil maksimal.
Masa depan Verstappen pun menjadi salah satu isu terbesar di paddock. Pembalap asal Belanda itu masih terikat kontrak jangka panjang dengan Red Bull hingga akhir 2028, tetapi spekulasi mengenai kemungkinan perubahan arah kariernya terus bermunculan. Verstappen sendiri belum memberikan kepastian mengenai keputusan jangka panjangnya dan memilih mengatakan bahwa jika ada perkembangan baru, dirinya akan menyampaikannya sendiri.
Di sisi lain, Verstappen menegaskan dirinya memiliki karakter yang sama dengan orang-orang di Red Bull dalam hal mengejar kesempurnaan. Saat membahas performa unit tenaga Red Bull Powertrains, ia mengakui bahwa dirinya maupun tim sama-sama tidak mudah puas ketika hasil belum sesuai harapan. “Saya juga tidak pernah puas,” ujar Verstappen dalam pernyataannya yang dikutip sejumlah media F1.
Karakter tersebut juga menjadi salah satu persamaan yang kerap dikaitkan dengan Lewis Hamilton. Keduanya dikenal memiliki standar tinggi terhadap performa mobil dan tidak mudah menerima hasil yang dianggap belum maksimal. Perbedaannya, Hamilton kini membela Ferrari, sedangkan Verstappen masih menjadi andalan utama Red Bull. Pada klasemen sementara yang dipublikasikan Red Bull, Hamilton berada di posisi kedua dengan 169 poin, sementara Verstappen berada di posisi keenam dengan 109 poin.
Di tengah situasi tersebut, Verstappen juga memberikan keputusan tegas mengenai proyek balap miliknya sendiri. Ia tidak berencana membawa Verstappen Racing menjadi tim Formula 1. Fokusnya justru diarahkan pada GT3 dan balap ketahanan, karena menurutnya mengelola tim F1 akan menyita terlalu banyak waktu dan energi.
Rangkaian perkembangan ini membuat perekrutan McCullough menjadi semakin menarik. Jika rencana tersebut terealisasi, Red Bull bukan hanya mendapatkan sosok berpengalaman dari Aston Martin, tetapi juga memperkuat struktur teknis dan operasionalnya ketika masa depan Verstappen menjadi perhatian utama. Bagi Red Bull, membangun kembali mobil yang kompetitif sekaligus menjaga kepercayaan Verstappen menjadi pekerjaan besar menjelang fase penting regulasi F1 berikutnya.***










