Gen Z Harus Waspada: Utang Digital Kini Tak Lagi Terasa Menakutkan, Justru Dianggap “Menyenangkan”

Gen Z Harus Waspada: Utang Digital Kini Tak Lagi Terasa Menakutkan, Justru Dianggap “Menyenangkan”
Gen Z Harus Waspada: Utang Digital Kini Tak Lagi Terasa Menakutkan, Justru Dianggap “Menyenangkan”
banner 468x60

JAKARTA, Radarjakarta.id – Fenomena meningkatnya penggunaan pinjaman online, PayLater, hingga perilaku belanja impulsif di kalangan anak muda menjadi perhatian serius dunia pendidikan dan industri keuangan. Menjawab tantangan tersebut, Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) bersama Jaringan Pegiat Literasi Digital (JAPELIDI), ASPIKOM, dan Trimegah Sekuritas menggelar kegiatan bertajuk “Literasi Fintech: Anak Muda Smart Financial User” di Ruang Serbaguna Universitas Al-Azhar Indonesia, Jakarta Selatan, Jumat (22/5/2026).

Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia, Widodo Muktiyo, membuka langsung kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa teknologi digital harus dimanfaatkan untuk membangun kualitas hidup dan peradaban yang sehat.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Jadilah influencer yang memberikan oksigen, yang sehat dan mencerdaskan. Gunakan teknologi dan literasi finansial untuk membangun peradaban finansial yang sehat dan cerdas,” ujar Widodo kepada wartawan usai acara.

Widodo mengajak mahasiswa memanfaatkan perkembangan teknologi digital secara positif dan bertanggung jawab, termasuk dalam memahami pengelolaan keuangan di era fintech. Ia juga menekankan pentingnya generasi muda menjadi pribadi yang mampu membawa dampak baik melalui media digital.

Salah satu pembicara, Engga Probi Endri, dosen Universitas Mercu Buana, menilai literasi fintech bukan lagi sekadar kemampuan memahami aplikasi keuangan, melainkan bentuk pertahanan diri terhadap jebakan utang digital dan manipulasi psikologis platform digital.

“Pahami sebelum pakai. Literasi fintech bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bentuk pertahanan diri terbaik terhadap jebakan utang dan penipuan,” tuturnya.

Engga menjelaskan, banyak anak muda merasa aman menggunakan cicilan digital karena nominalnya terlihat kecil. Padahal, tanpa disadari, akumulasi pengeluaran tersebut dapat berkembang menjadi beban finansial yang besar.

Sementara itu, dosen Program Vokasi Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, memaparkan berbagai hasil penelitian internasional yang menunjukkan bahwa rendahnya self-control, budaya materialisme, rasa kesepian (loneliness), hingga kebutuhan untuk diterima lingkungan menjadi faktor pendorong perilaku impulsive buying dan utang digital di kalangan anak muda.

Menurut Devie, generasi muda saat ini hidup di era ketika “utang tidak lagi terasa menyakitkan” karena teknologi digital telah menghilangkan pain of paying atau rasa sakit saat mengeluarkan uang.

“Kalau dulu dompet kosong membuat orang berhenti belanja, hari ini notifikasi justru membuat orang lanjut checkout. Banyak anak muda tidak sadar sedang masuk dalam frictionless economy, yaitu sistem ekonomi digital yang membuat proses berutang terasa ringan, cepat, dan hampir tanpa hambatan psikologis,” ujar peneliti kecanduan digital tersebut.

Devie, yang juga pendiri klinik digital sejak 2018, menambahkan bahwa media sosial dan marketplace modern kini tidak hanya menjual barang, tetapi juga emosi, pengakuan, dan rasa diterima.

“Kadang yang dibeli bukan barang, melainkan rasa dianggap. Algoritma digital bekerja mempelajari emosi pengguna, termasuk kapan seseorang sedang sedih, lelah, kesepian, atau merasa tertinggal dibanding lingkungan sosialnya. Hari ini algoritma tidak hanya tahu apa yang kalian suka, tetapi juga mulai tahu kapan kalian sedang rapuh,” jelasnya di hadapan lebih dari 70 mahasiswa.

Dalam sesi interaktif, Devie mengajak mahasiswa memahami perbedaan antara kebutuhan dan validasi sosial melalui pendekatan sederhana namun reflektif.

“Literasi finansial hari ini juga harus mengajarkan kemampuan mengendalikan impuls dan mengenali manipulasi psikologis di era digital. Masalah terbesar generasi muda hari ini bukan tidak bisa mencari uang, tetapi terlalu cepat merasa punya uang,” katanya.

Ia juga menyoroti budaya ingin terlihat sukses di media sosial yang kerap membuat anak muda membeli barang di luar kemampuan finansialnya demi pengakuan sosial.

“Banyak orang hari ini terlihat kaya, tapi tidur ditemani cicilan,” ujarnya.

Devie menegaskan, masa depan finansial generasi muda tidak hanya ditentukan oleh besarnya pendapatan, tetapi juga kemampuan untuk berkata “cukup”.

Dari sisi industri, Ceasarini Felicia dari Trimegah Sekuritas menjelaskan pentingnya mengubah pola pikir generasi muda dari sekadar konsumsi menuju investasi dan perencanaan masa depan.

Ia memperkenalkan dasar-dasar pasar modal, saham, obligasi, dan reksa dana dengan pendekatan sederhana dan relevan bagi anak muda.

“Setiap orang memiliki tujuan finansial dan profil risiko yang berbeda, sehingga strategi investasi juga harus disesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masing-masing,” ungkapnya.

Ceasarini juga mengingatkan mahasiswa bahwa inflasi dapat menggerus nilai uang jika tidak dikelola melalui investasi yang tepat. Selain itu, peserta diperkenalkan pada konsep risk versus reward, pentingnya diversifikasi investasi, hingga cara berinvestasi mulai dari nominal kecil melalui platform fintech resmi dan legal.

Moderator kegiatan, Irwa Rochimah Zarkasi, menilai diskusi ini penting karena generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya. Menurutnya, anak muda hidup di tengah tekanan budaya digital yang sangat kuat, mulai dari tuntutan tampil sukses di media sosial hingga paparan promosi digital tanpa henti.

Sementara itu, panitia dari UAI dan JAPELIDI, Cut Meutia Karolina, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas kampus dan komunitas dalam membangun budaya literasi digital yang sehat di Indonesia.

“Melalui keterlibatan JAPELIDI, forum ini tidak hanya menjadi ruang diskusi akademik, tetapi juga bagian dari gerakan nasional literasi digital yang telah melibatkan ratusan akademisi, peneliti, dan pegiat komunikasi dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia,” ujarnya.

Selama ini, JAPELIDI dikenal aktif mendorong penguatan literasi digital berbasis riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat, termasuk dalam isu hoaks, keamanan digital, budaya digital, hingga literasi finansial di era platform dan kecerdasan buatan.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa di era digital, literasi finansial bukan lagi sekadar kemampuan menghitung uang, tetapi juga kemampuan memahami diri sendiri di tengah dunia yang terus mendorong manusia untuk membeli, membandingkan, dan meminjam.

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60
Temukan berita-berita terbaru dan terpercaya dari radarjakarta.id di GOOGLE NEWS. Untuk Mengikuti silahkan tekan tanda bintang.