JAKARTA, Radarjakarta.id – Festival Film Horor (FFH) edisi ke-6 kembali menetapkan karya dan insan perfilman horor terbaik bulan ini. Film Para Perasuk dinobatkan sebagai film terpilih, sementara Anggun C Sasmi serta Aming masing-masing terpilih sebagai pemeran wanita dan pria terbaik.
FFH yang rutin digelar setiap tanggal 13 juga menetapkan Joko Anwar sebagai sutradara terpilih dan Indra Suryadi sebagai Director of Photography (DoP) terbaik bulan ini.
Sepanjang April, sejumlah film horor meramaikan bioskop nasional, di antaranya Aku Harus Mati, Ghost in The Cell, Warung Pocong, Tiba-Tiba Setan, dan Para Perasuk. Setelah melalui proses diskusi dan penilaian panjang, dewan juri akhirnya menetapkan nama-nama tersebut sebagai pilihan utama FFH edisi kali ini.
Ketua Dewan Juri FFH, Ismail, menegaskan bahwa penilaian dilakukan berdasarkan standar dan kriteria yang jelas, bukan sekadar faktor suka atau tidak suka. Menurutnya, Para Perasuk dinilai memenuhi unsur penting dalam film horor, mulai dari atmosfer, kekuatan cerita, hingga nuansa budaya lokal yang kuat.
“Film ini terasa sangat Indonesia. Unsur budaya yang diangkat begitu kuat dibanding film lain yang tayang bulan ini,” ujar Ismail.
Ia mengakui Ghost in The Cell sempat menjadi kandidat kuat karena kualitas produksinya yang dinilai bertaraf internasional. Namun, film tersebut dianggap kurang menghadirkan identitas budaya Indonesia secara mendalam, meski memiliki kritik sosial yang kuat.
Penampilan Anggun C Sasmi di Para Perasuk juga mendapat sorotan khusus. Dewan juri menilai Anggun berhasil keluar dari citranya sebagai penyanyi dan tampil total sebagai sosok guru para perasuk yang misterius serta penuh tekanan emosional.
“Penonton dibuat lupa bahwa itu Anggun sang diva. Karakternya benar-benar hidup,” kata Ismail.
Hal serupa juga ditunjukkan Aming lewat film Ghost in The Cell. Selama ini dikenal lewat karakter komedi, Aming justru tampil garang sebagai tokoh kriminal yang ditakuti di dalam penjara. Julukan “Tokek” yang melekat pada karakternya disebut mampu menghadirkan rasa mencekam bagi penonton.
Sementara itu, Indra Suryadi dinilai layak menjadi DoP terbaik berkat kepiawaiannya membangun visual mencekam dalam film The Bell: Panggilan untuk Mati. Tata gambar yang dihadirkan disebut mampu memperkuat ketegangan sekaligus tetap menghibur penonton.
Di sisi lain, FFH juga memberi perhatian terhadap film Allegory of a Woman, karya yang mengangkat isu kekerasan digital dan revenge porn terhadap perempuan. Film ini menceritakan perjuangan seorang perempuan bernama Sania yang menjadi korban penyebaran konten pribadi oleh kekasihnya sendiri. Saat berusaha mencari keadilan, ia justru dihadapkan pada sistem hukum yang dinilai belum berpihak kepada korban.
Dalam cerita tersebut, korban terus mendapat tekanan, ancaman, hingga stigma sosial, sementara pelaku masih bebas berkeliaran tanpa hukuman yang sepadan. Sania digambarkan harus melawan trauma seorang diri dengan dukungan terbatas, terutama dari ibunya. Film ini menjadi kritik sosial terhadap lemahnya perlindungan bagi korban kekerasan berbasis digital.
Menurut narasumber Salwa, Allegory of a Woman juga mendapat perhatian di sejumlah festival film internasional. Film tersebut masuk nominasi sekaligus diputar dalam Borderless Film Festival di Boston, Amerika Serikat.
Selain itu, film tersebut juga tayang di Outloud Film Festival di Dallas dan berhasil masuk nominasi film favorit pilihan penonton setelah memperoleh voting tertinggi dari sekitar 3.000 film yang disubmit dari berbagai negara.
Menutup keterangannya, Ismail berharap FFH dapat terus menjadi ruang apresiasi sekaligus referensi bagi para sineas Indonesia untuk melahirkan karya-karya horor berkualitas dengan karakter lokal yang kuat.











